Senin, 07 Februari 2011

Sastra tak Lagi Eksklusive

Cara membaca, mengapresiasi, atau memahami makna teks sastra, sedasyat apapun teks tersebut, tidak perlu lagi diajarkan kepada publik. Pelajaran membaca sastra bisa diperoleh publik awam dengan mudah, cukup berselancar di dunia siber atau terlibat dalam serangkai diskusi yang acap digelar di komunitas-komunitas sastra.

Tahun 1980-an, susah sekali menemukan karya sastra terbaru. Yang ada karya sastra lama, itu pun hanya saya temukan di perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah saya sangat buruk. Banyak dari buku itu disimpan di dalam lemari. Saya tak tahu koleksi buku di perpustakaan itu.

Saya baru mulai menikmati sastra setelah SMA pada dekade 1990-an di perpustakaan sekolah. Guru Bahasa Indonesia yang memperkenalkannya kepada saya lewat mata pelajaran itu, karena ia kerap memberi tugas menulis apresiasi karya sastra. Saat itulah saya mengenal sastrawan Indonesia seperti Iwan Simatupang, Bokor Hutasuhut, Budi Darma, Putu Wijaya, HB Jassin, Chairil Anwar, Asrul Sani, dan lain-lain. Saya lebih mengenali mereka yang suka menulis prosa. Penyair yang saya baca karyanya Sutardji Calzoum Bachri, O Amuk Kapak, dan Yudhistira Ardi Massardi, Sajak-Sajak Sikat Gigi. Saya membaca sajak-sajak mereka karena unik dan, terkadang, lucu. Karena sajak-sajak itulah saya menjadi mengerti bahwa seorang sastrawan bisa menulis apa saja dan melakukan apa saja terhadap sesuatu. Sastrawan bisa menghidupkan benda-benda, mematikan yang hidup, dan sebagainya.

Begitulah sastra membuat saya jatuh cinta. Tapi, buku sastra sulit saya dapat. Karya sastra baru susah saya temukan sampai saya mengenal SKM Swadesi, HU Sinar Harapan, dan Kompas.

*

Sekarang sastra tidak lagi susah didapat. Sastra tidak lagi eksklusif, tidak lagi elitis. Sastra, berbeda dengan seni rupa, adalah jenis karya seni yang paling demokratis. Siapapun bisa menikmati sastra jenis apa saja tanpa harus mengeluarkan uang untuk membeli buku, karena karya sastra betebaran di dunia internet. Karya sastrawan nasional sampai sastrawan dunia bisa dibaca kapan saja dan dimana saja.

Sebab itu, publik sastra kita, sekalipun berasal dari kaum yang tak punya latar belakangan akademi sastra, tetap “mampu” melakukan pembacaan, menafsirkan makna dari tiap kata, dan mengambil tiap kepingan manfaat yang berserak di dalamnya. Seandainya pun kemudian publik pembaca membuat semacam ulasan atas hasil pembacaannya yang kemudian dibaca orang lain sebagai sepotong kritik, tidak serta merta harus ditolak dengan alasan amatiran. Apalagi disangka sebagai penghancur nilai estetis dari karya sastra, atau kudeta atas posisi kritikus seni.

Semua hasil pembacaan itu, pada akhirnya akan menguarkan subtantif segala nilai yang dikandung karya sastra. Penolakan atas pembacaan oleh publik awam adalah kesombongan intelektual. Ini semacam ketakutan atas kehilangan ketergantungan terhadap kedudukan kritikus dalam dunia seni. Dengan sendirinya menjadi semacam ketakutan kehilangan terhadap kelompok beatifikator. Meskipun tanpa mereka sastra kita tumbuh dengan pesat.

Popular Posts

Recent

5/Tech/feat-slider

Random

ad728