DI GUNUNG SIBUALBUALI

item-thumbnail


Di lereng Sibualbuali, aku adalah tenda

Sewarna rumput-rumput di tanah

Kusembunyikan laki-laki itu di tubuhku

.

Angin yang membawa lembing

Ketajaman mata lembing tak menembus

Kehangatan parasut dan mantel tebal

di tubuhnya. Hujan menurunkan jeruji

Mengurung laki-laki itu bersama keinginan

Menyusuri kanopi hutan hujan tropika sumatera

Hutan adalah tahta bagi flora dan fauna

.

Nyanyian katak dari sungai kecil di sampingku

Air jernih menampakkan lumut pada batu

Ritme tetes air jatuh dari daun-daun

Harmoni ansambel melodi dari konser alami

.

Laki-laki terkantuk-kantuk bersama buku puisi

Dan hujan tiba-tiba berhenti, langit

terbuka dan matahari menyala. Matahari

di mana-mana sebagai cahaya berpijar-pijar

dari butir-butir air di daun-daun,

di rumput-rumput, di permukaan sungai kecil

ketika laki-laki itu keluar dari tubuhku.

.

Berdiri di atas rumput, menyimak harmoni

melodi dan mulai berputar-putar

dalam tarian. Aku dengan seruling

selendang biru, seperti tangan yang lembut

menyentuh jiwaku.

.

*) Gunung Sibualbuali, nama gunung di Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang merupakan kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali.
Artikel Baru

HALIHI

item-thumbnail

Angkasa aku jelajahi

tak lagi ada yang lebih tinggi
sedang awan aku pecahkan
sayap-sayap aku kepakkan

merobek langit. Hujan tumpah
dari sobekan itu, mengguyur
tanah gersang yang merekah
oleh kemarau. Tanah-tanah subur

dengan palawija dan sayur mayur,
para petani di sawah menandur
padi, bersiul tentang musim panen

semoga harga tinggi
aku yang lebih tinggi
dari apa pun. lebih tinggi

Halihi sejenis burung elang, merupakan burung perkasa yang jadi simbol kebebasan bagi masyarakat adat Angkola.

Artikel Baru

LELO

item-thumbnail



Di kota kami, tak seorang pun boleh

letuskan senjata jika tak ada horja
Bunyi mesiu yang ledak adalah tanda
yang ditunggu raja-raja untuk marhata.
Di gelanggang, atau manortor
untuk eratkan tali yang mengikat saudara
dalihan na tolu. Di bonabulu, tak ada
yang asah parang untuk saling melukai
Segala tikai selesai, segala wasangka
tak guna. Semua saling percaya

Lelo secara harfiah adalah bedil, tapi tidak untuk senjata perang. Benda ini hanya diledakkan saat ada pesta adat. Mesiu dibuat sendiri dari bahan baku arang andulpak (sejenis kayu lokal), ditambah air kencing, dan ini menjadi pengetahuan lokal masyarakat adat Angkola.

Artikel Baru

SIPIROK, 1988

item-thumbnail


Tak pernah aku tahu sedasyat itu api
    melahap apa saja dengan mulutnya
yang tak berahang, tak bergeligi.
Hanya lidah, jutaan lidah menjulur
    ke benda-benda. Dan seperti tongkat sihir
mengubah segala jadi kepulan asap
di angkasa, di mana bulan menghilang
    malam itu. Bintang-bintang leleh bersama
kaca-kaca jendela rumah dan semua
yang berdiri itu, rubuh ke dalam hitamnya
    kekelaman. Sekelam kolam kesedihan
yang menenggelamkan para pengungsi
di antara tumpukan barang-barang pribadi
    di pinggir kota. Benda-benda kesayang itu
telah terbakar, tak lagi berfungsi. Tapi,
itu harapan yang bisa diselamatkan 
    dari api. Dan aku menemukanmu,

mengapung-apung di atas kolam
putus asa, memeluk boneka panda
    yang hangus kakinya. Menatap kosong
pada tumpukan arang bekas kusen pintu,
seakan-akan api masih menyala di sana
    dan mengancammu. Dengan nyalanya,
yang lebih tajam dari segala pisau,
    dan kau menjerit. Seperti orang-orang
tanpa suara, air mata bergulir
menggantung di dagu. Dan matamu,
merah menyimpan sisa asap semalam.

Sipirok, x – 2023


Artikel Baru

PAKKAT

item-thumbnail



Bila parangmu tak pernah menebas pucuknya,

ia akan sempurna sebagai calamoidea.

 

Berzirah duri seluruh tubuhnya, bersurai cambuk,

ia taklukkan hutan hujan tropika sumatra

dan berkuasa sebagai liana

 

Kaki-kakinya adalah akar-akar menancap

di tanah, lengannya panjang memiting

batang-batang pepohonan yang menjulang,

dan ia kibarkan panji

di puncak tertinggi.

 

Ia masih belia sebagai pucuk saat kau tebas

dan terputus dari silsilah lama. Di atas meja makan,  

kau beri silsilah baru  kepadanya sebagai hidangan

bagi para raja.

 

 

Pakkat (bahasa Batak berbudaya Angkola) berarti pucuk rotan, salah satu kuliner tradisional.
Artikel Baru

MIGRASI

item-thumbnail



Melintasi rute sepi, melewati jalur hutan

yang dihuni begu dan jalan melingkar
dengan jurang menganga di mana kematian
bertahta. Dan segalanya tampak samar,
tapi kami akhirnya sampai di dangsina
Meninggalkan purba, tanah lama berawa-rawa
dengan gunung batu dan danau bermagma.
Danau yang menyimpan Naga Padoha
mimpi buruk kami yang dititipkan Mulajadi
sebagai ancaman. Roh yang jadi bayang-bayang
hukuman menyakitkan adalah misteri
hidup antara menjejak di tanah dan melayang
di udara. Dan kami menemukan ini negeri,
di lembah Sibualbuali, di mana sungai mengalir
datang dari hutan, angin adalah melankoli,
di dalam diri kejayaan berdesir mendesir.

Humbanghasundutan, x- 2023

Purba (bahasa Batak) artinya Utara dan Dangsina artinya “Selatan”. Ini mitologi migrasi orang Toba di Utara ke Selatan dan menemukan peraban manusia serta belajar dari masyarakat yang ditemuinya.

Artikel Baru

NAGA PADOHA

item-thumbnail


: thompson hs

Di Samosir, dari bangku sebuah bungalow, pikiranku
    menyelam ke kedalaman danau yang biru itu,
dan terpukau pada gadis yang menjelma seekor ikan
dalam dongengan. Entah, dia masih punya kejayaan,

setelah kutuk yang disambut gelegar petir di langit,
hujan yang tak henti-henti, dan lembah-lembah
    telah digenangi. Adakah dia telah kembali bangkit
    sebagai ikan atau menjelma Naga Padoha

dikirim Mulajadi Nabolon. Dan dengan ekornya,
dia guncang tanah jadi longsor, nafasnya merubuhkan
rumah-rumah sepanjang danau itu, dan puing-puingnya

menimbun orang-orang di banua toru. Di Samosir,
aku rafal mantra pemanggil Deak Parujar, tapi
yang datang padaku angin di bungalow itu berdesir.

Samosir, x – 2023

Naga Padoha: Masyarakat di Pulau Samosir menyakini ada mahluk mitologi bernama Naga Padoha yang bertugas menjaga Danau Toba. Mahluk mitologi ini sedang marah ketika sejumlah tempat di Danau Toba dilanda banjir bandang.


Artikel Baru

DI RANJANG RUMAH SAKIT

item-thumbnail



Di dalam sakit, aku berjalan

tapi tubuhku tak bergerak

di atas ranjang: 

antara sadar dan jaga

seperti lampu minyak

hendak padam.

 

Langkah kakiku menyusuri jalan

yang ujungnya begitu jauh. 

Langit muram jelang malam, 

tak ada suara-suara 

dari yang kucintai

sepanjang usiaku.

 

Aku harapkan

suara langkah anak-anak

berlari ke pagar rumah

dan menungguku pulang,

atau nyanyian istriku

saat meninakbobokkan

pada malam hari. 

 

Aku rasakan sepi

di dalam jantungku

menyebar

ke seluruh tubuhku

seperti darah

dipompakan.

 

Aku hanya mendengar satu suara:

bunyi mesin kardiografi: bip bip bip

dan itu suara jantungku

yang lemah,

sangat lemah.

 

Aku ingat  ucapan dokter

tentang hariku

segera selesai

dan mereka, keluargaku,

harus berdamai

tapi aku tak ketakutan

membayangkan pergi

ke suatu tempat

dan tidak seorang pun

yang aku kenali

di tempat itu.

 

Hanya Tuhan mahatahu

aku dekat dengannya

di dalam nafasku

ia adalah nafasku

dan ia menemaniku

di dalam sakit,

saat aku berjalan

dan aku tahu tubuhku

tidak bergerak

di ranjang. 

Artikel Baru

ZIARAH

item-thumbnail



: Amir Sjarifoeddin Harahap


Alamatmu yang ada padaku adalah makam

          di Yogjakarta. Berbeda dari makam lainnya; 

tanpa karangan bunga, tanpa bau bunga yang ditabur

          para peziarah.

 

Semak mimosa yang merambat itu bercerita,  

          betapa leluasa ia tumbuh 

dan merambat pada nisan. Bersama belukar semak

berlomba-lomba menutupi makam agar tak bisa dikenali

          para peziarah.

 

Ah, Amir, kawanku,

          aku mengunjungimu di Yogjakarta

setelah membaca buku-buku sejarah

dan tak menemukan namamu di sana

--segala tentangmu disebut haram

          bagi ingatan bersama--

 

Aku menyanyikan himne dalam hatiku

          lagu yang selalu dinyanyikan

ketika mengenang Soekarno, Hatta,

Sjahrir, dan kawan-kawanmu yang lain

          kawan semeja bicara Nusantara


 

 

 

Artikel Baru

FRAGMEN

item-thumbnail


(1)

        Aku empat puluh ketika pintu rumah kubuka,
    menutupkan daun pintu itu, dan pergi. Aku 
     tidak pernah menoleh, bertahun-tahun lamanya. 

Sejak itu aku tak pernah tahu apakah warna cat 
    pintu itu masih coklat tua atau telah berganti rupa.
               Pintu hanya sesuatu untuk kita lewat
      
Tapi itulah rumahku, tempat tinggali sejak 1996,
    di Lampung. Ia sangat berarti sebagai panggung 
                   sandiwara. Di sana aku terbenam

bertahun-tahun sebagai aktor buruk 
    yang tak mampu memainkan lakon sebagai suami. 
         Perempuanku, aktris terbaik yang selalu sedih


(2)
 
Tahun 2009, Agustus yang kering, aktris terbaik itu
                                melihat aku berjalan ke pintu 
dan tak pernah lagi masuk. Ia tak meminta 
        agar aku jangan pernah keluar rumah

      Ia menduga tak akan pernah aku lebih jauh
dari halaman rumah.Tapi hari itu aku pergi jauh, 
lebih jauh  dari halaman, dan lebih jauh lagi 
         hingga rumah tak pernah terlihat lagi. 

Langkahku bergerak, terus bergerak, dan ketika aku berhenti 
telah tiba di kota lain; aku jadi pengelana yang tak pernah sepi. 
Di mana tanah aku tapaki di sana semua manusia aku akrabi.



 

Artikel Baru

PERCERAIAN DAN PUISI LAINNYA

item-thumbnail



Puisi Budi Hatees

PERNIKAHAN

Pernikahan mengubah dua anak muda beda kelamin
      jadi sepasang merpati berpagutan 
di pinggir jalan, sedang di jalan itu kendaraan riuh,
di dahan pohon mereka bertengger dan masih berpagutan, 
    di taman kota bersama mematuki remah roti 
yang dilemparkan pasangan tua. Dan pasangan tua itu 
merasa sedang melihat mereka di masa lalu 
    sambil bergumam: "Kalian masih baru."
 
Sepasang merpati itu sedang berbulan madu, 
      segala terasa manis di lidah, dan jalan penuh lubang
atau comberan penuh limbah tampak indah,
tapi tak akan ada sisah bila segala perkara rumah tangga 
tiba. Perkara biasa seperti perbedaan-perbedaan 
yang tak perlu ada dan seharusnya selesai jika satu mengalah.

Pernikahan tak akan ubah seorang yang egois
    jadi baik budi, karena eksistensi perlu ditegakkan 
dan harga diri harus dipertahankan. Dan pernikahan
membuat dua anak muda beda kelamin itu 
merasa kemudaannya masih dilimpahi cahaya 
    kebahagiaan dan kemerdekaan; mereka
memilih menilai pernikahan hanya nama lain 
    dari pengekangan.


PERCERAIAN

Perceraian tak akan membunuhmu
    ataupun dia. Perkara itu hanya soal
harus berpisah, tidak lagi tinggal 
dalam rumah yang sama. Dan, ini penting,
tak ada lagi yang mengikat kakimu. 
    
Rantai besi itu putus sudah. Kau boleh 
    kembali kepada kejayaan masa muda
yang kau banggakan, sedang dia
segera memoles gincu yang lebih merah,
eye shadow, dan gaun pesta.Tapi 
tak ada yang bernar-benar sama
    seperti pada masa muda

di tubuhmu dan dia melekat masa lalu
seperti tahi lalat pada pipi 
    yang selalu menandaimu
sebagai dirimu. Waktu telah berlalu,
kemudaanmu menjadi masa lalu, 
dan masa depan datang padamu
    seperti sepasukan serdadu 
menyebu.    



ANAK PEREMPUAN

Anak perempuanmu seperti ibunya
    tapi tidak seperti ibunya
Bila tangannya merangkulmu 
    kau tak bisa membiarkan hal itu
berlangsung lama di hadapan tetangga
Segera cari alasan untuk menjauh
    dan mulailah bersikap sebagai ayah
yang melindungi putrinya 
    dari segala fitnah. 

Kau hidup di Indonesia, di tengah 
    masyarakat yang mengandalkan rasa
ketimbang akal budinya. Dan mereka, 
gampang betul bilang "tak sedap di mata",
meski tak pernah punya ukuran 
    yang bisa diterima logika. 
Dan kau hanya akan bisa menangis
    bila lidah mereka bicara 
meskipun tak ada fakta. Sebab fakta
perkara yang tak penting dalam urusan
    sosial.

Sekali lagi, kau tinggal di antara
    orang-orang yang merasa moderen 
tapi primitif. Mereka gemar berbisik-bisik
    di belakangmu, menuduhmu keliru, 
dan bersikap sangat manis bila di hadapanmu
Mereka sudah seperti itu sejak dahulu
    terbiasa bicara bagus padahal maksudnya
buruk.

Dan mata mereka risih, seperti kemasukan debu,
    bila melihat anak perempuanmu 
bersikap manja padamu. Sebab, anak perempuan mereka, 
tak pandai bermanja pada orang tua, tapi
    bersikap sangat manja di luar rumah 
hingga membiarkan sperma laki-laki 
membuahi telur dalam rahimnya. 

Artikel Baru

Puisi Sebuah Variasi Kematian Dinasti Sori Mangaraja

item-thumbnail
Minggu, 27 Agustus 2017
SEBUAH VARIASI  
KEMATIAN DINASTI 
SORI MANGARAJA 

1

dengan kau
atau tanpa kau di sampingku,
aku tetap akan pergi, Palti Raja.
mati orang kata

hidup tanpa aku, kelak
hidup tak sepenuhnya berjaya
hidup seperti rusa-rusa
selalu diburu untuk diperdaya

tapi tidak, Palti Raja,
tak bisa kau lakukan apa
kematianku sudah pasti,
Mula Jadi Nabolon menulis ini

lagipula aku tak ingin jadi abadi
sebagai arwah, ruh-ruh leluhur
yang menghuni batu dan api
yang berdiam di gunung dan lamur

selepas ini sejarah akan ditulis kembali
ditulis anak-anak Singa Mangaraja,
dia patuan dari Bakkara,  turun di bumi
mereka menyebut utusan Debata

turun di mayapada, di Sianjur Mula
dan selalu begitu, mata pena menulis kata
tergantung pada tangan siapa
yang memegangnya

memang  tak seperti itu adat mula,
misalnya kita, tak pernah mengenal Debata
kita mengenal Mula Jadi Nabolon
di tiga tingkat benua

tapi siapa bisa tahu masa lalu
saat orang-orang bicara tentang waktu
semua ini, akhirnya, hanya alkisah
seseorang harus jadi tukang cerita

tapi, biar, biarlah, Palti Raja.  tak ada yang sungguh jadi abadi
aku juga tak ingin jadi abadi di luat ini, di portibi ini
maka pergilah! ajak mereka yang masih setia padamu.
bawa ke Selatan, ke daerah yang jauh

tak usah kau berpikir kembali ke Utara
jika sudah tiba, bertahanlah, bertahan, Palti Raja.


2

ia pun berpamit, pergi  ke peraduan
malam itu. suara-suara kesunyian adalah bunyi burung malam,
burung yang hinggap di dahan hayuara di halaman istana,
bunyi yang sebetulnya tidak biasa

di pintu kamar, Palti Raja berjanji akan terus berjaga
hingga kokok ayam pertama. hingga baginda
muncul lagi seperti semula.
tapi di dalam kamar itu, dari balik korden, seseorang  segera keluar
dengan tombak di tangan dan rencana-rencana baru di kepala

detik-detik berikutnya kau tahu, malam terasa sangat sunyi,
sangat sunyi. tak terdengar serangga berbunyi

dan pagi harinya, istana gempar,
sebab baginda yang bijaksana sudah terkapar

3

Palti Raja tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi
lewat lubang kunci, ia lihat saat kau tusukkan tombak itu,
saat kau berkata: “sudahlah, Sori Mangaraja!”

dan memang, segalanya sudah di Utara
bagi dinasti Sori Mangaraja.


4

hingga beradab kemudian, seseorang yang tak pernah diperhitungkan
datang dari Selatan, dari kaki Bukit Barisan,  dari rimbun hutan
di Rao. berjubah putih, pedang kilap di tangan, menghela kuda putih
berlari sejajar matahari terbenam dan di dadanya ditanak dendam

saat senja menyarungkan cahayanya ke dalam kelam, pedang dicabut
kuda-kuda dihela dalam larutan malam, debu-debu hitam
membuat waktu berwarna kelam.

kota terbakar oleh nyala dendam. jelaga memenuhi langit
sebagai gumpalan awan. di udara kesiur bau amis dan sangit
seseorang yang berdiri di atas batu, mencatat peristiwa itu,
dengan kalimat: “dendam yang pendam sudah melabuh.”


BEGU GANJANG

lidah mereka kelu setiap ingin menyebut namaku
meskipu segar dalam ingatan. maka aku dipanggil begu ganjang
nama yang tak akrab dengan telingaku

tapi apalah arti sebuah nama?  aku hanya tertarik pada sajen
di atas daun pisang, tiga helai daun sirih, sekeping pinang,
linting rokok kemenyan, rerupa kembang,

dan air dari tujuh telaga di tujuh benua, ditaruh pada tujuh bokor
di bawah akar hayuara.  maka kusingkirkan gelap
yang selalu buat mereka terperangkap dalam pesonanya harap

lalu aku simak rafal mantra yang disyairkan tanpa iringan nada
desau angin di daun-daun hayuara, juntai akar-akarnya
aku gerakkan sebagai tanda: persembahan mereka aku terima

lidah mereka kelu, kelopak mata terpejam serupa mengejan
aku tahu bulu-bulu di kuduk mereka segera menari-nari
lalu kurontokkan sehelai daun hayuara

senyum segera merekah sebelum bangkit dan beranjak
menanam percaya jauh di lubuk hatinya. kening menyala,
membayang hari akan senantiasa membuat terpesona.

Begu Ganjang: mitos di lingkungan masyarakat Batak tentang roh halus yang menakutkan.
Artikel Baru
Older Posts
Home
BROWSE ALL Have no any related posts Search Archive Not found your key word, please try another one!