Sabtu, 2008 Juni 07

metamorfosa

jalan menuju rumahku terasa lebih mulus
dari yang aku bayangkan
tak ada ceruk, tikungan tajam, dan tanjakan yang memaksaku tertatih
angin bertiup membawa aroma sawah, getah pohon pinus,
dan dingin kabut meniti di pucuk dedaun
sepanjang bukit-bukit hijau
aku berteriak menangkap kelebat kenangan
di kaki gunung sibualbuali
hingga terkelupas semua perih perjalanan dari telapak
kakiku. malam perlahan menggulung jubahnya

pagi mekar di ufuk timur ketika siul burung-burung
menghamburkan cahaya mahaterang. bumi terbuka bagi segala doa
langit yang bening itu seolah siap menerima tanganku
menuliskan puisi. aku tahu waktu segera mengemas
musim sunyi ke dalam masa laluku. maka kupuja masa depan
dengan cinta dan kutanggalkan semua pakaianku
saat seekor kupu-kupu menuntun
kepalsuan dan dusta telah kulucuti. aku telanjang
mendatangimu

aku menangisi kelahiranku kembali. seperti anak yang lama pergi
tanah-tanah membuka tangannya.

Sipirok, vi--2008

Minggu, 2008 Mei 25

Dari Sudut Bumi

: dian hartati

ketika ingin menemuimu, tak kubayangkan kau akan mau
mendengarkan kisahku tentang sebuah dunia
yang telah kubangun di sudut bumi.

hamparan batu cadas, ilalang seluas pandang,
dan matahari yang tak pernah henti
mengucurkan cairan magma. hingga otakku selalu terbakar
tetapi aku membajaknya sepanjang waktu
dan selalu memanen tetes keringatku yang asin

dari sudut bumi itu, aku membayangkan tempat-tempat
yang tidak pernah kusentuh. hingga aku kenal hiruk kota
saat menenggelamkanmu ke dalam jam kerja,
sedang aku tenggelam oleh harapanku yang meluap
serupa sungai. untuk mengabarimu dalam puisi
tentang kota-kota yang kukunjungi

setelah menemuimu, tak kubayangkan akan begitu tersiksa
oleh sepi yang menghasratkanku
pada kota-kota

Bandung, v--2008

Senin, 2008 April 21

"Dibunuh" Harga Produksi, "Dibunuh" Jurnalipstik

BISNIS media cetak kini bagai berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Sosoknya tidak jelas, tetapi pengaruhnya sangat kuat, yakni kenaikan harga minyak dunia. Ini memicu kenaikan biaya produksi sejumlah industri, pada hulu sampai hilir, terutama industri pulp yang memproduksi kerta koran.

Bahan baku utama kertas koran merupakan produk yang dibeli dari pengusaha di luar negeri. Dalam sepekan terakhir, sejumlah industri pulp terpaksa menaikkan harga kertas karena biaya produksi meningkat 100% akibat kenaikan harga minyak dunia.

Fakta ini membuat Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) menggelar rapat khusus. Para pengelola media cetak itu menyepakati, pemerintah mesti menghapus biaya impor kertas dan menghapus pajak kerta. "Untuk mencerdaskan bangsa dengan memberi rakyat bacaan yang murah," kata Leo Batubara.

Betulkah?

Sejak kapan pengelola media cetak memikirkan mencerdaskan bangsa? Ketika harga kertas murah, mereka menerbitkan media cetak yang 60% berisi iklan, 40% beris berita. Berita dalam media cetak sebagaian besar didisain dengan semangat mengaflikasikan metoda jurnalipstik---bukan jurnalistik.

Jurnalipstik adalah metoda jurnalisme yang intinya menulis berita yang "memuja-puji" narasumber dengan harapan mendapat sharing iklan. Artinya, meskipun isi media cetak 60% iklan, tetapi 40% lainnya tetap berisi berita lipstik.

Karena itu, keinginan para pengelola media cetak tidak harus diterima begitu saja. Mereka harus mengubah konsep dan strategi bisnisnya untuk tidak cuma memeikirkan satu hal, yakni tanggung jawab terhadap profit.

Kenakan harga kertas adalah momentum menyelesaikan media cetak, dan biarkan harga kertas tetap tinggi agar kualitas pemberitaan lebih bagus.

Jumat, 2008 Februari 22

Jurnalisme Munafik

1

Ketika saya masuk ke ruangan Pemimpin Redaksi Lampung Post, mereka sudah ada di sana: Djadajat Sudrajat, M. Natsir, Iskandar Zulkarnain, dan Sabam Sinaga. Keempat orang inilah yang akan saya ceritakan sebagai penemu aliran baru dalam dunia jurnalistik, “jurnalisme munafik”.

Keempatnya tidak tersenyum, dingin, kaku, dan seolah-olah tak akan terjadi apa pun. Inilah symbol-simbol fisik yang sering ditemukan dalam diri para munafik, orang-orang yang dengan segera mencari alasan-alasan rasional agar dirinya tidak menjadi martir di mata orang lain. Orang-orang yang seperti itu dilukiskan dengan sangat bagus oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam puisinya, “Munafik Ismail”.

“Silahkah, Bud?” Djadjat Sudrajat, wartawan yang pernah sangat disanjung konglomerat Surya Paloh, orang yang menyembunyikan sepak-terjangnya di balik kumis tebal dan rambut dipotong blow. Sebuah senyumnya merekah, tetapi begitu hambar.

Hanya ada satu kursi kosong, berada di hadapan mereka. Kursi itu sengaja ditaruh di sana, mirip posisi kursi para terdakwa. Duduki saya, kau akan jadi tersangka, seola begit kursi itu bicara.

Saya teringat salah satu adegan dalam cerpen Budi Darma, “Kritikus Adinan”, meskipun kepala saya tidak langsung menjadi kosong. Menjadi jurnalis di era Orde Baru membuat saya terbiasa dengan stuasi yang tertekan secara psikis, makanya saya cepat melarut di dalamnya. Pengalaman sejak 1994 di dunia jurnalistik mengajarkan, saya tidak boleh hancur oleh “teror” psikis. Ketika saya duduki, kursi stenlis itu dingin.

Saya sudah menduga ada hal besar yang akan terjadi, tetapi saya tidak terlalu merisaukannya. Saya tersenyum sambil menatap wajah mereka satu per satu. Saya hanya ingin menangkap pesan-pesan yang disampaikan mimic mereka. Bagi saya, komunikasi yang terjalin lewat mimic jauh lebih mudah dimengerti ketimbang komunikasi verbal.

Verbalisasi adalah alat para munafik, mimic adalah kemurnian. Saya pun paham, mereka sedang merencanakan sesuatu kepada saya. Karena tidak seorang pun berani menatap mata saya.

Semua menunduk. Menunduk. Hm. Aiiii, mendadak mereka berubah jadi beruk. Saya tertawa dalam hati. Saya berpikir sudah menguasai keadaan. Saya teringat pada seorang perempuan paroh baya yang selalu setia menjadi penasehat saya. “Kalau kau bertemu dengan seseorang yang kira-kira akan mencelakakanmu, jangan pernah mau kalah oleh mata mereka. Kuasai mata itu, kau akan menguasai mereka,” katanya.

Ini pelajaran psikologi yang bisa diterapkan siapa pun dan kepada siapa pun. Bahkan seeor ular dapat ditundukkan apabila matanya dipandangi terus-menerus. Maka pada mata keempat orang itu, segala sesuatu menjadi semakin jelas. “Ada apa ini,” kata saya, “sepertinya ada sesuatu yang sangat penting ingin disampaikan kepada saya? Silahkan!”

Djadjat Sudradjat kembali tersenyum, tetapi begitu hambar. Kemudian ia berkata dengan mimic yang luar biasa kadar teaterikalnya. Maklum, ia orang yang tak asing dengan dunia teater, mengawali karier di jurnalistik sebagai penulis sajak (bukan penyair). Beberapa tahun lalu ketika masih menjabat sebagai Deputi Pemberitaan Media Indonesia, ia bermain ketoprak bersama sejumlah pejabat. Baik dirinya, maupun para pejabat itu, terlihat begitu piawai bermain. Mungkin, karena mereka sudah terbiasa dengan acting, terutama saat memainkan peran sebagai pejabat negara.

Kali ini ia memainkan acting yang baru. “Kami mau dengar langsung dari kau soal opini yang kau kirim ke Lampung Post.” Ia menunjuk setumpuk kertas berisi opini saya berjudul “Pers Lampung Anti-Masyarakat”, sebuah penelitian atas realitas pers di Lampung yang menjadikan Lampung Post da Radar Lampung sebagai sample. Opini yang saya tulis dalam kapasitas sebagai peneliti di Media Sadar Masyakarat (Mesra) itu, mengupas ihwal kelemahan-kelemahan content Lampung Post selama bertahun-tahun, yan membuat koran tertua di Lampung itu tamak begitu tua dan kelelahan.

Saya masukkan dalam blog ini tulisan yang menjadi alasan mengadili saya dengan judul “Pers Kami di Lampung”.

Sebetulnya tulisan itu tidak hebat betul. Semua isinya kompilasi dari hasil analisis isi (content analysis) dalam kapasitas saya sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan Lampung Post. Ketika jabatan itu diberikan kepada saya pada April 2007---saat itu Ade Alawi merupakan Pemimpin Redaksi Lampung Post---dengan bijakasana Ade Alawi bilang: “Kami membutuhkan analisis atas terbitan Lampung Post, makanya kau kami tempatkan di sana.”

Ternyata, setelah tiga bulan analisis saya yang saya beri nama Salam Kreatif berjalan, justru membuat jajaran redaksi Lampung Post gerah dan merah padam. Saya disebut terlalu kasar dan keras. Ade Alawi sendiri sempat mengingatkan saya: “Kalau semua analisismu menyebut Lampung Post tidak bagus, itu berarti kau menilai kinerja saya tidak bagus.”

Saya bilang, kalau memang tidak setuju, debat saja analisis saya. Cuma, jangan subjektif. AdaAda dialog, ada perdebatan, dan semua bermuara pada peningkatan kualitas terbitan Lampung Post. data dan metodeloginya jelas, sehingga akan lebih kreatif lagi.

Ade Alawi tak menanggapi. Ia bilang: “Yang kalem saja Mas Budi.” Saya pun menjadi paham, taka menanggapi itu ternyata berarti “anjing menggonggong kafilah berlalu”. Saya terus diminta menganalisis, tetapi tidak diamanfaatkan untuk mengubah produk. Lampung tetap saja hadir dengan sekian banyak salah cetak, salah kutif, berita ganda, salah huruf, salah disain, salah perspektif, salah melulu.

Itulah yang diamksud dengan kalem. Tentu, sulit bagi saya yang terbiasa blak-blakan untuk menjadi kalem. Karena, bagi saya tak perlu seseorang bersikap kompromi (kalem) untuk sebuah produk bisnis yang rusak parah secara jurnalistik. Itu hanya berarti kompromi pada keburukan.

Bagaimana kondisi rusak parah itu, di sini salah satu edisi dari Salam Kreatif yang saya buat. bersambung

Selasa, 2008 Februari 19

lomba poster hadiah tropi, capek deh

Di arena Pameran komputer Lampung di Pahoman digelar Lomba Poster bertema "Visit Lampung 2009". Banyak peminatnya, berlomba dengan tiga unit komputer di Lampung Post. Poster hasil buatan peserta di tempel di stand. "Hadiahnya cuma tropi," kata Imron, panitia dari Lampung Post.

Untuk sebuah kerja kreatif, hadiahnya cuma tropi. Jangan-jangan hasil bareter. Capek deh.