Minggu, April 19, 2009

Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi

Esai Budi P. Hatees

Esai ini akan dibacakan dalam acara Lounching Buku Kumpulan Puisi Ruang Lengang karya Epri Tsaqib di Saung Beringin, Universitas Lampung, pada 26 April 2009. Sudah dipublikasikan di Lampung Post edisi 19 Arpril 2009

KETIKA membaca buku Kumpulan Puisi Ruang Lengang yang ditulis Epri Tsaqib, ingatan kita segera tertumbuk pada sastra islami yang diusung para penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) dalam karya-karya mereka. Epri Tsaqib bergiat dalam wadah ini, tetapi ia memilih jalan puisi sebagai alat ekspresi seni, berbeda dengan pilihan sebagian besar penggiat FLP yang condong mengutamakan prosa. baca selanjutnya

Sabtu, April 04, 2009

Bukan Lelaki Terbaik

Cerpen : Budi P. Hatees

SARMAN, tukang parkir tua yang gemar meniup piluit itu, melihat Koh Wei menurunkan rolling door toko elektroniknya. Dari tempatnya duduk, dekat pedagang gerobak di ujung jalan itu, ia berlari menghampiri. Sebatang rokok yang baru dinyalakannya, dimatikan dengan cara menggesekkan ujung rokok yang terbakar itu ke trotoar. Sepanjang berlari ia tiup piluitnya berulang-ulang, sehingga semua orang di sepanjang koridor di kompleks pertokoan Telukbetung itu menepi. Dari kaca spion mobilnya, Partahian, sopir pribadi Yanuar, pemilik toko fotokopi, tersenyum melihat betapa gesitnya laki-laki tua itu.

Dalam usianya yang, diperkirakan Partahian sudah lebih 56 tahun, Sarman tetap bersemangat dan energik. Ia perhatikan laki-laki tua itu memberi aba-aba kepada Koh Wei saat mau mengeluarkan mobilnya dari sela-sela mobil yang parkir di sepanjang jalan itu. Ketika Koh Wei berhasil mengeluarkan mobilnya, laki-laki keturunan Tionghoa itu menjulurkan tangan kanannya yang menggenggam selembar Rp1.000. "Terima kasih, Pak Sarman!" Ia menancap gas dan mobilnya hilang di ujung jalan, di balik toko fotokopi milik Yanuar. Partahian menebak Koh Wei terburu-buru untuk menemui kekasih gelapnya. Koh Wei bukan laki-laki yang baik. Bukan suami yang setia. Tidak ada suami yang setia seratus persen. Cuma Yanuar, hm, cuma ia? Partahian masih melirik spion dan melihat wajah Sarman yang begitu ceria sehabis menerima Rp1.000. Sambil menghidupkan rokoknya kembali, Sarman berjalan ke warung gerobak tempat ia biasa duduk. Husin, pemilik warung itu, sedang sibuk menuliskan angka-angka togel pada secarik kertas. Ia tidak menyadari ketika Sarman sudah berada di sampingnya. "Sudah kau dapatkan angka yang pas untuk dipasang?" Kaget, Husin yang latah, langsung teriak, "E..eh, dapat....Dapaaaaaaaat!" Sarman tergelak. Ia selalu menjadi begitu riang setiap kali berhasil membuat Husin gugup. Partahian ikut tersenyum. Sarman menyedot rokok kreteknya. "Kau tak usah main judi togel lagi. Rezekimu tak ada di situ." Asap dikepulkan ke udara seperti berusaha menghamburkan semua keresahannya. "Berdagang saja. Rezekimu akan lebih bagus." Sekali lagi rokok kretek itu disedot. Dada tua itu masih menyimpan kegagahan masa lalunya. Tegap. Ia berbicara lagi, selalu, seperti ia bernafas, tidak putus-putus. Husin, yang setiap hari mendengarkan ceritanya, selalu saja sabar menyimak. Padahal, dari hari ke hari, Sarman selalu mengulangi cerita yang sama. Kalu bukan soal nasihat-nasihat agar jangan bermain judi togel, pasti cerita tentang masa lalunya, bahwa dulu, dulu sekali—siapa yang tahu kebenarannya-- ia adalah satu dari sedikit orang terhormat yang ada di kota itu. Tapi, sebetulnya, Husin mendengarkan cerita itu cuma sekedar menghormati Sarman. Husin merasa tidak enak untuk mengabaikan laki-laki tua itu. "Kau tahu," kata Sarman, "dulu, di tempat ini, belum ada gedung bertingkat." Lalu Sarman melanjutkan, satu-satunya gedung bertingkat adalah kantor Walikota, dan ia bekerja di salah satu ruangan di dalam gedung itu. Sebuah ruangan yang luas dengan AC yang dingin, meja kerja dari kayu jati dan kursi yang empuk. Begitu nyaman. "Saya bekerja di sana selama puluhan tahun." Husin mengangguk-angguk, sekedar memberi kesan bahwa ia menyimak cerita itu. Partahian mencibir kelakuan Husin. Sopir itu tidak pernah suka kepada orang seperti Husin, orang yang melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain, ia lebih menyukai orang yang berani bicara lugas bahwa yang buruk adalah buruk dan tidak perlu menutup-nutupinya hanya untuk menyenangkan orang lain. Husin termasuk orang seperti itu. Entah untuk apa ia menjaga perasaan Sarman. Sering sekali Partahian ingin mengutarakan ketidaksenangannya kepada Husin. Tapi, ia berpikir untuk apa mengurusi mereka, toh apapun yang dilakukan Husin tidak mengganggunya. Ia pun memutuskan untuk hanya duduk di belakang stir mobil, menunggu sampai Yanuar pulang atau keluar untuk urusan penting sambil memperhatikan Sarman dan orang-orang yang lalu-lalang di jalan itu. Ada keasyikan bagi Partahian memperhatikan bagaimana perilaku orang-orang saat berdiri di depan toko yang berjejer sepanjang jalan, lalu memandang berlama-lama ke dalam etalase. Ia membayangkan mereka sedang merancang-rancang untuk membeli barang-barang di etalase itu pada suatu saat nanti. Mungkin juga, mereka, sedang berpikir untuk memindahkan barang-barang dari etalase itu ke dalam rumahnya tanpa harus membayar sesuatu. Ah, kemiskinan selalu membuat siapa saja lebih berani. Ada kepuasan dalam diri Partahian setelah ia meyakini bahwa sebetulnya mereka yang memandang ke etalase itu adalah orang-orang yang cuma mampu berkhayal. Ia pun akan senyum-senyum. Dan kini, ia perhatikan Sarman berdiri lagi, sambil menatap ke ujung jalan. Dari kaca spionnya Partahian melihat sebuah sedan masuk dan berhenti di depan saloon di ujung jalan itu. Suara peluit Sarman mendecit-decit. Dengan kegugupan yang sama Husin latah berdiri, "E...eh...copot!" Sarman tertawa sambil berlari. Gesit. Tapi, kali ini, perhatian Partahian tersita kepada pemilik sedan. Seorang laki-laki paroh baya, orang yang sama seperti kemarin, yang selalu muncul setiap sore di salon itu. Penampilan laki-laki paroh baya itu parlente dalam stelan pantalon warna hitam dengan kemeja warna kuning gading. Sepotong dasi warna biru berlurik kuning gading di lehernya membuatnya enak dipandang. Tapi, Partahian tak menilai penampilan itu, melainkan jauh ke dalam hatinya. Ia menebak laki-laki itu pasti bukan orang baik-baik. Untuk apa ia selalu muncul setiap sore di salon itu? Pasti ada sesuatu yang sangat menarik dan mengesankan baginya. Mungkin, ah, salah seorang pekerja di dalamnya. Atau pemiliknya. Tidak. Partahian memastikan salah seorang pekerja di salon itulah yang membuat laki-laki itu selalu datang setiap sore. Bukankah salon itu, tulisan besar di depannya, cuma kedok untuk menutupi praktek prostitusi di dalamnya. Bukahkan hampir semua salon seperti itu, di mana para pelanggannya datang bukan cuma untuk potong rambut atau krembat, melainkan untuk hal-hal lain seperti meluruskan urat-urat yang kaku. Sarman masih meniup piluitnya. Sedan itu berhenti. Tapi, yang turun dari dalam mobil justru seorang perempuan bertubuh gendut, yang terlihat seolah menggelinding saat melangkah. Laki-laki parlente menjulurkan kepalanya dan mengatakan sesuatu kepada perempuan itu, mungkin, istrinya. "Oke, sayang, nanti jemput ya!" Suara perempuan gendut itu seberat bobot tubuhnya, bergema di jalan itu. Lalu, sedan tersebut bergerak. Sarman menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kali ini, tidak selembar uang ia dapat. Partahian tersenyum ketika memikirkan mengapa laki-laki paroh baya itu tidak ikut turun. Mungkin, ia takut istrinya melabraknya jika ternyata ada satu atau seluruh pekerja di dalam salon yang mengenal suaminya. Bukankah perempuan gendut itu, dengan pipi yang tampak memenuhi seluruh wajahnya, merupakan perempuan pencemburu. Dari bentuk fisiknya saja seorang perempuan bisa diketahui apakah pencemburu atau tidak, terutama jika perempuan itu tidak yakin dengan kemampuannya mempertahankan cinta suaminya. Perempuan gendut itu termasuk ke dalam kelompok para istri yang tak yakin cinta suaminya diarahkan sepenuhnya kepadanya. Partahian tersenyum dan yakin perempuan gendut itu datang ke salon dalam rangka untuk memikat hati suaminya. Mungkin saja, kepada pemilik salon, perempuan itu bilang, "Tolong buat aku secantik bidadari". Lalu, sambil menahan geli, pemilik salon menjawab dengan memberikan poster-poster para artis, "Ingin seperti bidadari yang mana?" Jemari perempuan itu menunjuk poster Madona. Kali ini pemilik salon tidak bisa menahan tawa. Sarman melangkah ke warung gerobak dengan puntung rokok menyelip di bibirnya. Yanuar keluar dari toko fotokopinya. Digedornya dinding mobil, dan Partahian tersentak. "Tunggu beberapa menit lagi!" Partahian mengangguk. Dijulurkannya kepala keluar jendela, menatap langit sore hati. Matahari mulai berat ke barat. Riuh suara walet pulang ke sarang terdengar bagai gemerincing mata uang. Burung-burung pemilik ludah emas itu, ehem, seperti rezeki yang tumpah dari perut langit. Sarman memperhatikan Partahian. "Kau lihat laki-laki itu?" Sarman bicara seolah pada dirinya sendiri. "Saya perhatikan ia tidak pernah mau turun dari mobil itu." "Partahian maksudmu?" tanya Husin, yang masih juga menuliskan sesuatu pada kertas. "Ia memang begitu sejak Yanuar mengangkatnya menjadi sopir." "Sopir Yanuar?" "Sebetulnya ia bukan sekedar sopir, tetapi orang bodoh yang mau menutupi kelakuan buruk Yanuar." Husin melipat kertasnya dan mengantonginya. "Kasihan istri Yanuar, ia terlalu percaya Partahian akan mendukungnya." Sarman menatap Husin. "Sepertinya kau banyak tahu soal keluarga Yanuar." "Aku kenal semua pemilik toko di jalan ini." Sarman melihat Yanuar keluar dari tokonya dan langsung masuk ke mobil. "Kita jalan-jalan dulu sore ini! Biasa...." Partahian mengangguk. Entah kenapa, ia tidak pernah berani memanjakan pikiran buruknya tentang Yanuar. Sebetulnya, ia pernah berpikir bahwa Yanuar bukan tipe lelaki yang baik, atau suami yang setia. Tetapi pikiran itu ia buang jauh-jauh, dan mencoba memikirkan hal lain tentang Yanuar. Bahwa Yanuar, apapun ia adanya, bukan manusia melainkan malaikat penolong. Yanuar yang membawanya keluar dari jerat hukum alam tentang membunuh atau dibunuh sebagai perantauan yang tak bermodal apapun. Satu satunya keterampilan Partahian cuma menyetir mobil, yang ia dapat di kampungnya, tidak akan ada artinya seandainya Yanuar tetap membiarkannya hidup menjadi gelandangan. Makanya, seburuk apapun Yanuar di luar rumah, Partahian siap memasang badan menjadi tamengnya. Terkadang, ia berpikir betapa berdosanya ia kepada Maryam, istri Yanuar, karena menutup-nutupi kebiasaan suaminya yang buruk. Ketika mobil itu bergerak, Partahian melambaikan tangannya kepada Sarman yang mau mendekat. Husin yang melambai. Sarman mengerutu. Partahian tersenyum sambil melirik Yanuar. "Kita ke rumah Lisna lagi?" tebaknya. "Lisna?! Tidak. Perempuan itu terlalu dingin. She is like prizeer. Uuuuuuh! Kita temui Tamara. Perempuan itu menungguku dari sejam lalu." Partahian tersenyum dan mobil melaju membelah kota. Matahari tergelincir sudah di Teluk Lampung, meninggalkan sihluet truk-truk menimbun laut dengan irisan bukit Camang. "Sejam yang lalu!? Apa Tamara mau menunggu selama itu?" Partahian membuka pembicaraan. "Perempuan, ah! Mereka sangat menyukai bila dibohongi." Keduanya tergelak. Ngakak. **** Bandar Lampung/Sipirok, vii—2008

Partonun

Cerpen Budi P. Hatees

Jari-jemari Inang seperti punya mata, meniti di rentangan helai demi helai benang kain tenun berwarna hitam, lalu menyusup untuk mengaitkan benang warna-warni di antara benang-benang itu hingga terbentuk ornamen-ornamen indah. Jari-jemari itu seolah bisa membedakan warna setiap benang yang terserak di sekitarnya, yang diraih Inang tanpa melihatnya. Ada puluhan benang, digulung dalam kertas hingga membentuk bulatan-bulan sebesar kelereng, sehingga gampang keluar-masuk di antara benang-benang yang tipis. Silih berganti, setiap kali satu rajutan selebar setengah meter rentangan benang itu selesai, dengan kecekatan serupa jari-jemari Inang mengeluarkan balobas-balobas bambu yang semula di dalam rentangan benang sembari mengetuk-ngetukkannya. Semilimeter demi semilimeter, rentangan benang-benang itu berubah menjadi kain.

Begitu terus-menerus Inang mengerjakan ulos itu dengan ketekunan seorang pengrajin tradisional, yang mewarisi bakat itu secara turun-temurun dari almarhumah ompung. Inang cuma butuh tiga pekan untuk menyelesaikan ulos sepanjang tiga meter itu, dan itu waktu yang sangat cepat dibanding penenun lainnya yang membutuhkan empat sampai enam pekan untuk menyelesaikan tenunannya. Selama tiga pekan itu, tubuh Inang terikat dengan peralatan yang sederhana itu, seolah-olah mereka telah menyatu. Inang baru melepas ikatan alat-alat tenun itu dari tubuhnya jika ingin buang air, atau saat panggilan azan terdengar dari langgar yang letaknya tak jauh dari rumah kami. Selama itu pula, aku yang menjaga Inang dan mengambilkan makanan atau minuman untuknya, serta menyuapinya.

Dua adikku, Tiurma (10) dan Sangap (5), untungnya, sangat mengerti dengan kondisi Inang sehingga mereka tidak berani bermanja-manja. Aku pun sering mengingatkan agar mereka belajar mengurus diri sendiri. Mereka menurut meskipun tidak jarang sikap anak-anak yang ingin mendapat perhatian lebih dari ibunya sering mereka perlihatkan di hadapan Inang, tetapi aku memakluminya asal tidak mengganggu pekerjaan Inang. Tapi, kalau mereka mulai mengganggu pekerjaan Inang, cepat-cepat aku bawa mereka keluar rumah, dan mengajak duduk di bangku panjang di bawah pohon nangka. Mereka biasanya tanggap bahwa aku akan menceritakan suatu cerita seperti biasa selalu aku lakukan setiap kali mulai kewalahan meladeni kemanjaan-kemanjaan mereka.

Aku bukan tukang cerita yang bagus, karena aku sering mengulang-ulang cerita yang sudah pernah kuceritakan. Aku kewalahan mencari cerita karena semua cerita yang ada sudah kuceritakan, dan aku terpaksa mengarang sendiri cerita-cerita baru. Pernah aku menceritakan seekor ratu lebah yang terpaksa berdiam diri di dalam sarangnya sambil membangun sepotong demi sepotong sarang untuk meletakkan telur-telurnya. Pekerjaan itu dilakukan ratu lebah selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa pernah melihat dunia luar, dan tanpa melakukan hal-hal lain yang dilakukan lebah-lebah lain seperti mengisap sari bunga-bunga. Ketika menceritakan itu, aku selalu teringat kepada Inang yang dalam bayanganku seperti ratu lebah itu, sembari kuandaikan alangkah tersiksanya kehidupan yang dijalani Inang dengan menutup diri terhadap dunia luar. Tapi, Amang, bukanlah lebah-lebah jantan yang pergi keluyuran mencari bunga-bunga mekar dan menghisap madunya untuk dibawa ke rumah. Amang malah sebaliknya, keluyuran ke luar rumah, lalu pulang untuk mengambil madu dari dalam rumah dan menghamburkannya di kedai Amani Husor dengan berjudi sambil meminum tuak.

***

Sejak pabrik bubuk kopi milik Amani Luhut bangkrut karena tidak ada lagi biji kopi yang bisa digilingnya, ditambah banyaknya kopi kemasan yang lebih bagus yang masuk ke kampung kami melalui pedagang-pedagang kamvaser dari Padangsidempuan, Amang dan sebagian besar laki-laki di kampung kami yang semula bekerja menjadi buruh di pabrik itu menjadi kehilangan pekerjaan. Amani Luhut sendiri terpaksa hidup dari hasil menjual satu per satu mesin penggiling kopinya yang masih sisa karena sebagian besar sudah disita bank, dan ia semakin sering terlihat berjalan-jalan sendirian mengelilingi kampung kami sembari menggerutu sepanjang jalan. Belakangan Amani Luhut ditangkap orang sekampung dan dipasung di gubuk kecil bekas gudang penimbunan biji kopi di belakang rumahnya, karena ia tidak cuma suka menggerutu tetapi mulai gemar membentak-bentak setiap orang yang berpapasan dengannya seperti kebiasaannya membentak-bentaki para pekerja ketika pabrik penggilingan kopinya masih aktif.

Hampir semua bekas buruh di pabrik Amani Luhut itu tidak siap kehilangan pekerjaan, karena mereka tidak tahu mau bekerja apapun untuk menghidupi keluarganya. Pekerjaan lama mereka sebagai petani tidak bisa lagi diandalkan karena mereka tidak punya sawah untuk digarap. Semua penduduk di kampung kami, yang semula memiliki lahan garapan warisan dari orangtuanya, kini tidak punya lahan lagi. Mereka menjual lahan-lahan itu beberapa tahun lalu ketika Amani Luhut baru membuka pabrik kopinya dan mengajak semua laki-laki di kampung kami yang biasa bersawah menjadi buruh di pabriknya. Dan, para laki-laki yang merasa sangat betah bekerja di pabrik itu, memutuskan menjual sawah mereka karena yakin gaji sebagai buruh pabrik cukup untuk menghidupi keluarganya.

Ketika sawah-sawah itu dijual, di kampung kami sedang demam orang memiliki parabola. Cuma dengan teknologi itulah orang-orang bisa mengikuti perkembangan zaman melalui pesawat televisi, karena antena biasa cuma bisa menangkap TVRI yang acaranya melulu propaganda politik pemerintah. Makanya, hampir semua rumah di kampung kami memiliki parabola, sekalipun kondisi rumah-rumah itu sangat memprihatinkan dengan dinding kayu tua lapuk dan atap seng buruk yang sudah karatan dan penuh tambalan. Namun, sejak pabrik kopi itu tutup dan banyak laki-laki yang menganggur, maka parabola tidak ada lagi di kampung kami. Para pemiliknya menjual parabolanya untuk membeli beras atau kebutuhan hidup lainnya. Satu-satunya parabola cuma ada di kedai milik Amani Husor, dan setiap orang di kampung kami senantiasa berada di dalam kedai itu menghabiskan waktu berhari-hari, sambil memesan kopi yang setiap jam selalu ditambah airnya.

Amang termasuk salah seorang yang gemar menghabiskan sehari penuh di kedai Amani Husor, dan baru pulang ke rumah dinihari ketika kami—ketiga anaknya—sudah terlelap. Biasanya, Amang pulang membawa aroma minuman keras di mulutnya, yang sering membuat aku tersentak bangun dan cepat-cepat membukakan pintu. Pagi harinya Amang bangun dengan sisa tuak yang masih mengendap di rongga kepalanya. Suaranya yang keras menggoyangkan tiang-tiang rumah seperti ingin merobohkannya ketika meminta dibuatkan secangkir kopi, lalu duduk di kursi rotan tua sambil menyedot rokok Union-nya.
Berulangkali ia akan mendahak dan meludah keluar dari jendela. Akulah yang memenuhi semua kebutuhan Amang, membuatkannya secangkir kopi kalau kopi dan gula ada. Kalau tidak ada, aku akan diam-diam ke warung Amani Husor, membelinya dengan sisa uang belanja yang diberikan Inang kepadaku. Selesai ngopi, biasanya, Amang keluar. ”Ada kau simpan uang, Nurma,” katanya. Aku tak pernah bisa menolak, karena Amang tidak akan segan-segan memukuliku. Lalu, sisa uang belanja dari Inang kuberikan.

Sedangkan Inang yang sudah mulai mengikat tubuhnya ke peralatan tenun, biasanya tidak banyak bicara. Inang harus memburu menyelesaikan pekerjaannya untuk menenuhi pesanan pelanggan dari Padangsidempuan, yang membutuhkan Ulos Godang itu untuk menikahkan anak sulungnya.

Inang selalu berusaha menjaga pelanggannya agar tidak kecewa. Semua keinginan mereka dipenuhinya tanpa banyak menuntut, sekalipun tidak jarang pelanggan yang datang itu menjual kembali hasil tenunan Inang dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang diberikan oleh Inang. Inang juga tahu soal itu tetapi ia tidak pernah mau meributkannya, karena Inang selalu bilang, ”Yang penting kita harus mensyukuri rezeki yang ada. Begitu kita mensyukurinya, rezeki itu akan berkah.”

Tapi, aku tak pernah bisa menerima perlakuan para pelanggan Inang itu. Sering kukatakan agar Inang menetapkan harga lebih tinggi karena cuma Inang satu-satunya penenun yang mampu menghasilkan kain bagus dan indah. Banyak penenun lain tetapi hasil karya mereka sering tidak memenuhi keinginan para pembeli, karena banyak dari ornamennya tidak sesuai dengan ornamen Ulos Godang. Ornamen-ornamen yang mereka buat tidak lagi mengandung falsafah warisan leluhur budaya Batak Angkola, karena penempatan ornamen di setiap lembar Ulos Godang mengandung ajaran-ajaran kehidupan yang bila diamalkan akan membuat hidup lebih tenang, dan orang bersangkutan selalu akan tawadu dan husnuzon. Begitulah Inang selalu menceritakan makna setiap motif dan ornamen Ulos Godang yang ditenunnya, lalu Inang mengatakan, ”Inang tidak cuma mencari nafkah dengan menenun Ulos Godang, juga melestarikan ajaran-ajaran leluhur kita agar orang-orang zaman sekarang bisa hidup tenang dengan rasa toleransi yang tinggi.”

***

Hampir tiga pekan, akhirnya, Inang menyelesaikan tenunannya. Bertepatan dengan itu, pemesan Ulos Godang datang dari Padangsidempuan. Kijang biru metalik yang dikendarainya diparkir di halaman rumah. Kulihat Tiurma dan Sangap mendekati mobil itu, mengaguminya, tetapi sopir orang itu menyuruh mereka menjauh. Aku keluar dan menyuruh mereka menjauh, lalu ke dalam lagi untuk menyiapkan minuman. Ketika aku datang sambil membawa minuman, kulihat pemesan itu sedang memeriksa Ulos Godang hasil tenunan Inang.

”Luar biasa!” Perempuan bertubuh gendut yang gemar tersenyum untuk memperlihatkan sebutir gigi emasnya itu memuji karya Inang. Berulang-ulang diselempangkannya Ulos Godang itu di pundaknya, dan setiap kali ulos itu sudah terselempangkan, perempuan gendut itu membuat gerakan-gerakan manortor. ”Maaf, aku selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak manortor kalau sudah kuselempangkan ulos.”

Kulihat Inang tersenyum. ”Eda pantas sekali memakainya. Kapan horjanya diadakan?” tanya Inang.<

”Anu...rencananya besok,” perempuan gendut itu terlihat gugup.

Aku dan Inang tahu persis, Ulos Godang itu bukan untuk dirinya sendiri. Perempuan gendut itu pedagang dari Padangsidempuan, yang akan menjual Ulos Godang itu kepada pemesannya. Tapi, ia berpura-pura sebagai orang yang akan memakai Ulos Godang itu. Dengan begitu, ia akan mendapat Ulos Godang dengan harga lebih murah dari harga biasanya, karena para penenun Ulos Godang tidak boleh menaikkan harga bagi orang yang akan menggunakan kain adat itu untuk keperluan horja. Ada semacam toleransi yang tak tertulis dari para penenun Ulos Godang untuk mempermudah semua urusan orang-orang yang akan melaksanakan horja. Aku tahu persis soal itu dari Inang, makanya perempuan gendut itu membuat aku muak. Buru-buru aku ke dapur, meninggalkan Inang bersama tamunya.

”Berapa lagi sisa uangnya?” Perempuan gendut itu mengalihkan pembicaraan.
”Sebelumnya aku sudah kasih Rp50.000, tinggal Rp200.000 lagi kan?” katanya.
”Rp250.000 lagi, Eda.” Inang meralatnya. ”Kita sepakat harganya Rp350.000.”
”Eda! Ulos Godang ini mau kupakai sendiri. Persiapan horja perkawinan anak sulungku sudah banyak menghabiskan uang. Tolonglah aku, Eda, jangan sampai karena Ulos Godang ini horja itu jadi batal.”

Inang terdiam. Dari dapur aku menunggu reaksi Inang. Aku berharap kali ini mau bicara lugas dan mengatakan yang sebenarnya bahwa perempuan gendut itu berbohong. Tapi, ketika aku dengar Inang mengatakan ”baiklah”, aku terduduk di kursi rotan tua. Aku sudah menduga Inang pasti tidak sanggup bicara lugas karena ia selalu berusaha menjaga agar pelanggannya tidak pergi.

”Mauliate ma da, Eda,” kata Inang setelah menerima sisa uang Rp200.000. Ah, Inang, ia masih juga berterima kasih meskipun dibohongi.

”Mauliate.” Perempuan gendut itu tersenyum.

Aku melihat wajah perempuan gendut itu begitu puas. Aku tahu rasa puas itu bukan karena sudah memperoleh Ulos Godang dengan harga murah tetapi karena berhasil membohongi Inang. Begitu ia berada di dalam perjalanan ke Padangsidempuan, ia pasti akan bilang kepada sopirnya, ”Bodoh sekali orang itu mau aku bohongi. Ulos sebagus ini bisa aku jual Rp500.000.”

Setelah perempuan gendut itu pergi, Inang memberiku Rp100.000 dari uang itu, ”Kau bayar uang sekolah kau dan adikmu Tiurma, sisanya untuk belanja kita sehari-hari. Sekarang kau pergi beli beras dan minyak goreng! Inang mau membeli benang-benang baru karena benang tenun Inang sudah habis.”

Aku mengajak Tiurma dan Sangap ke kedai Amani Husor. Tapi, baru saja kami mau melangkah keluar rumah, tiba-tiba datang seseorang memberi tahu bahwa Amang ditangkap polisi di kedai Amani Husor. Amang bersama kawan-kawannya tertangkap basah sedang berjudi. ”Amani Husor juga ditahan,” kata tamu itu.

Aku lihat Inang tenang saja sambil meremas uang Rp100.000 di tangannya. ***

Sipirok, i—2002

Ulos Godang = Kain adat Batak Angkola. Biasa dipergunakan untuk acara-acara adat perkawinan dan kematian. Inang = Ibu Amang = Ayah Amani Luhut = Panggilan, Ayah Luhut. Eda = Panggilan kaum perempuan kepada perempuan lain yang kira-kira seumuran. Sama dengan panggilan ”lae” antara kaum laki-laki dengan laki-laki. Horja = Pesta

Selasa, Maret 31, 2009

Puan Kecubung:
Buku yang Tak Menghargai Pembaca

BARU-BARU ini Jimmy Maruli Alfian meluncurkan buku pertamanya, Puan Kecubung (2009). Diterbitkan Penerbit KataKita, buku setebal 100 halaman ini berisi 49 judul puisi. Semua puisi pernah dipublikasikan di Lampung Post, Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, dan lain sebagainya. Banyak juga yang sudah muncul dalam sejumlah buku puisi antologi bersama para penyair lain.

Karena itu, penerbitan buku ini bisa diartikan sebagai ”upaya sengaja untuk tak menghargai hak pembaca”.

***

KITA tahu, pembaca puisi sebagian besar kalangan sastrawan. ”Rumah tangga sastra kita,” tulis Goenawan Mohamad, ”dunia sebagian kecil masyarakat Indonesia.” Paling minim, mereka yang membaca puisi adalah kalangan yang memiliki ketertarikan atas dunia puisi. Pembaca semacam ini, pastilah mengikuti dinamika kesusastraan di negeri ini, yang geliatnya banyak ditopang sastra koran. Artinya, mereka tak asing dengan karya sastra yang muncul pertama sekali dalam koran, pasti pula tidak asing dengan puisi-puisi yang ditulis Jimmy Maruli Alfian.

Sebagai penyair, nama Jimmy Maruli Alfian identik dengan Lampung. Menyebut konstalasi kepenyairan Lampung tanpa mengungkit namanya, merupakan upaya sengaja untuk mengaburkan sejarah sastra di provinsi ini. Sebab, Jimmy bagian dari sejarah sastra Lampung yang belakangan menampakkan kilapannya di seluruh wilayah Nusantara. Puisi Jimmy Maruli Alfian memiliki tempat sendiri di hati masyarakat puisi di negeri ini. ”Aku penyelaman yang bahagia di kedalaman puisi-puisi Jimmy,” kata Dorothea Rosa Herliany, ”aku pulang, dan selalu ingin kembali menyelam.”

Sebab itu, sebagai karya puisi, buku Puan Kecubung adalah kumpulan puisi berkualitas. Tapi, ketika puisi berkualitas itu menjadi buku, standar kulitas yang menyertainya pun bertambah. Indikator kulitas bukan lagi semata pada teks puisi, tetapi buku sebagai produk industri perbukuan.

***

SEHARUSNYA buku Jimmy Maruli Alfian ini muncul lima tahun lalu. Sayangnya, kualitas puisi-puisi Jimmy Maruli Alfian tidak mampu membongkar paradigma bisnis yang menyukupi dunia industri perbukuan di negeri ini. Puisi Jimmy Maruli Alfian, sebagaimana juga puisi yang ditulis penyair sebelumnya, bukanlah teks yang dapat membawa keuntungan bisnis bagi pelaku industri penerbitan buku.

Tak ada buku puisi yang membuat penerbit buku menjadi untung. Buku puisi diterbitkan para pelaku penerbitan buku semata sebagai proyek ideal; agar terjadi sosialiasi puisi di lingkungan masyarakat pembaca. Kalau tidak, pastilah karena ada bisnis di sana, dimana penyair bersedia mengeluarkan dana untuk mendukung penerbitan buku puisinya.

Kondisi semacam ini telah berlangsung lama di negeri ini. Penerbitan buku puisi banyak didorong oleh keinginan para penyair untuk memiliki buku sendiri. Bukan lantaran para pengelola bisnis penerbitan buku melihat peluang bisnis dari buku-buku puisi, sehingga mereka punya inisiatif untuk meminta para penyair menulis sekumpulan puisi guna diterbitkan menjadi buku.

Tapi, hal itu bukan soal. Siapa yang punya inisiatif pertama sekali untuk menerbitkan buku puisi, bukanlah ahwal yang penting dipermasalahkan. Namun, menjadi sangat penting ketika buku puisi itu ternyata berisi puisi-puisi lama yang sebelumnya sudah pernah dibaca masyarakat.

Kecuali Pengakuan Pariyem, bisa dikatakan hampir tidak ada buku kumpulan puisi yang berisi karya baru. Baru dalam pengertian, masyarakat pembaca belum pernah menikmati puisi-puisi itu sebelumnya. Ketika seseoranmg membeli buku puisi, maka keputusan itu berarti keputusan pertama untuk membaca karya tersebut.

Puan Kecubung seperti buku puisi lainnya. Seluruh isinya sudah pernah dipublikasikan. Karena itu, penyair yang menerbitkan buku lebih tampak sebagai sosok yang tidak yakin dengan kepenyairannya. Ia masih membutuhkan mempublikasikan ulang puisi-puisinya kepada publik pembaca.

***

PILIHAN Jimmy Maruli Alfian menerbitkan ulang puisi-puisinya bukan tanpa resiko. Tapi, inilah tradisi dalam penerbitan buku puisi di negeri ini. Puisi lama yang muncul dalam khazanah sastra koran selalu diterbitkan menjadi buku puisi. Sastra koran seolah-olah merupakan medium awal bagi penyair untuk mengasah kepenyairan, lalu menjadi benar-benar penyair kalau sudah memiliki sebuah buku.

Resiko dari tradisi semacam ini, publik menjadi kurang menyukai buku puisi. Publik paham betul, buku puisi yang muncul di negeri ini merupakan ”penerbitan ulang puisi-puisi lama”. Tidak ada yang baru. Lantas, untuk apa membelinya karena sudah pernah dibaca sebelumnya. Dampaknya, buku puisi tak pernah membawa keuntungan bisnis.

Bandingkan dengan buku puisi terjemahan, yang ditulis para penyairnya untuk khazanah sastra buku. Karya-karya Khalil Gibran bisa kita kedepankan. Sebelum menjadi buku, masyarakat pembaca tidak pernah menemukan puisi-puisi Gibran. Ketika menjadi buku, barulah masyarakat bisa membacanya.

Sebab itu, para sastrawan mestinya bisa menjawab sendiri kenapa minat para pelaku penerbitan buku sangat rendah untuk menerbitkan buku kumpulan puisi. Sebab, para penyair tidak pernah berusaha menulis puisi yang dipersiapkan khusus untuk khazanah sastra buku. Para penyair kita adalah individu yang menganggap publik akan menunggu bentuk buku dari karya-karyanya.

Anggapan yang keliru ini semestinya ditinggalkan. Di era komputerisasi saat ini, dimana zaman telah menuncul dalam bentuk jejaring, puisi bisa ditemukan dengan mudah lewat teknologi internet. Seluruh puisi dalam Puan Kecubung, bisa diunduh di internet. Para penggemar puisi, bisa mengoleksinya sesuka hati tanpa harus membeli buku puisi ini.

***

TIDAK jelas kenapa tradisi penerbitan buku sastra di negeri ini selalu merupakan penerbitan kembali karya-karya lama?

Bukan cuma puisi, penerbitan buku cerpen pun sering merupakan penerbitan kembali cerpen-cerpen lama. Hampir tidak ada buku cerpen yang isinya ditulis khusus untuk diterbitkan menjadi buku seperti Orang-Orang Bloomington, misalnya. Begitu juga dengan buku esai sastra, rata-rata penerbitan ulang karya-karya yang pernah dipublikasikan dalam khazanah sastra koran.

Mungkin, para sastrawan menganggap karya-karya mereka terlalu bagus dan sayang jika tidak dijadikan buku. Tapi, anggapan ini berlebihan dan lebih banyak membawa mudarat terhadap dunia kreativitas berkarya. Para sastrawan akan pusing mencari penerbit buku sastra, lalu mengabaikan kreativitas penciptaan. Kenapa tidak berpikir sejak awal untuk menulis buku sastra, sehingga tidak terlalu pusing memikirkan masalah sosialisasi karya dalam khazanah sastra koran.

***

JIKA seorang sastrawan merencanakan membuat karya yang dipersiapkan untuk menjadi buku, upaya itu sekaligus sebagai sebuah penghargaan atas posisi pembaca. Bagaimana pun pembaca dalam dunia buku memiliki posisi yang sama dengan pembaca dalam dunia koran. Mereka sama-sama menginginkan informasi terbaru dari bahan bacaannya.

Keputusan pembaca untuk membeli buku, pertama-tama didasari oleh keinginan mendapatkan informasi terbaru dari buku yang dibelinya.

Artinya, dunia penerbitan buku di negeri ini telah mengalami pergeseran krusial. Jika beberapa tahun lalu sebuah buku diterbitkan lebih karena faktor ”mengandung hal-hal baru yang perlu diketahui pembaca”, tetapi kadar kebaruannya sangat rendah. Sebuah buku dianggap baru jika tidak pernah sebelumnya dibaca masyarakat, meskipun tema dari buku ini membahas persoalan-persoalan lama yang lebih menunjukkan sebagai karya refleksi. Kebaruan dalam buku lebih karena faktor masyarakat belum tahu.

Dalam perkembangan belakangan, didukung oleh kemajuan teknologi informatika yang begitu pesat, masyarakat pembaca bisa mengetahui buku terbaru dari serial Harry Potter dalam waktu hampir bersamaan dengan apa yang diketahui oleh masyarakat di Inggris. Penyebabnya, masyarakat pembaca di Indonesia tidak ingin ketinggalan informasi tentang tokoh dalam serial Harry Potter tersebut, lalu berupaya untuk mencari informasi terbaru dari serial itu.

Sebab itu, kadar kebaruan dalam dunia perbukuan bergeser dan sejajar dengan kebaruan dalam dunia perbitan media (pers). Buku-buku Harry Potter edisi lama, tidak akan diminati lagi oleh pembaca. Minat mereka akan lebih ditujukan terhadap buku terbaru, dan tidak mau kalah dengan penggemar Harry Potter lainnya di negeri lain.

Artinya, para pelaku dunia penerbitan buku berusaha menyesuaikan diri dengan keinginan pembaca tersebut. Harapan pembaca untuk bisa mendapatkan informasi paling baru tentang sebuah peristiwa, secara perlahan-lahan dipenuhi oleh para pelaku penerbitan buku dengan menyajikan buku-buku yang memiliki kadar kebaruan tinggi. Itu sebabnya, ketika Barack Obamma sibuk berkampanye menjadi Presiden Amerika, di Indonesia bermunculan buku-buku yang mengupas riwayat hidup tokoh sentral tersebut.

Kebaruan atau aktualitas dalam dunia penerbitan buku telah mengalahkan aktualitas dalam dunia penerbitan media (pers). Bahkan, buku mampu menyajikan informasi yang berkedalaman dan detail yang bahkan tidak pernah muncul dalam dunia penerbitan media (pers). Untuk itu, para pelaku dunia penerbitan buku acap mencari penulis-penulis buku yang memiliki energi lebih untuk menyajikan informasi terbaru yang belum pernah disajikan dunia media (pers).

***

DALAM dunia penerbitan buku yang syarat akan aktualitas itu, kita bisa menertawakan buku-buku yang berisi penerbitan ulang karya lama seperti Puan Kecubung, juga buku-buku sastra yang muncul di negeri ini. Sebab itu, sudah seharusnya para sastrawan mulai memikirkan menulis untuk kapasitas buku sastra. Jika tradisi ini yang dilakoni, maka rumah tangga sastra kita akan menjadi rumah tangga seluruh warga Indonesia. Posisi buku di negeri ini akan sama seperti posisi serial Harry Potter, sudah terjual sebelum diterbitkan.

Intinya, penulis buku harus menghargai pembaca. Semoga!

Minggu, Maret 22, 2009

Sungai Inang

pada lekuk-lekuk sungaimu, aku berenang,

ke dalam lubuk dan palung

hatimu. menangkap ikan bersisik kemilau dan melepasnya

di aliran sungai dalam diriku

Sipirok, xii - 2008

baca selanjutnya di suara pebaruan

Cinta Menebar dalam Sajak-Sajak Budi P. Hatees

Esai Udo Z. Karzi

TERUS terang, agak bingung juga ketika saya diminta membahas sajak-sajak Budi P. Hatees yang dibacakan dalam Bilik Jumpa Sastra malam ini, Jumat, 18 Agustus 2006. Lebih bingung lagi ketika saya menerima 30 sajak dalam manuskrip bertitel Mulak, Kumpulan Sedikit Puisi. Rencananya sih mau diterbitkan menjadi buku.

Saya punya waktu dua hari untuk sedikit mengapresiasinya. Ya, sekadar mengapresiasi. Sebab, hendak mengkritik rasanya saya tak punya perangkat (semacam teori sastra) memadai untuk itu. Saya harus membatasi diri. Tidak semua sajak dapat saya jelajah secara detil.

Maka, saya hanya ingin melihat sebuah sisi: “cinta” dalam sajak-sajak Budi P. Hatees dalam manuskrip ini. Soalnya sederhana, saya membaca begitu banyak cinta bertebaran dalam manuskrip ini, meski terkadang cinta itu terasa getir. Ya, cinta yang getir.

Maaf, kalau saya pun ingin berbagi rasa soal yang mungkin dianggap sudah basi ini. Tapi, tidak juga. Lihat saja bagaimana penyair masih gemar mengolah cinta dalam syair-syairnya. Tak terkecuali Budi. Tak beda, saya juga. Hahaha….

Cinta, ah....

***

Kita coba masuki cinta. Saya kutip utuh sajak Budi berikut ini.

cerita tentang perahu suatu ketika, entah terjadi kapan, ia menemukan bangkai sebuah perahu, "ini perahu nuh," katanya. berbulan-bulan ia perbaiki perahu itu dan hartanya ludes ke situ.

orang-orang tertawa, anak-anak mengejeknya: "gila! gila! gila! kapan kau berlayar?" sambil melempari perahu dengan tahi

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia ingin marah dan menghardik anak-anak itu. tapi ia ingat kepada nuh sambil mengurut dada, ia berdoa: "tuhan, beri hamba kesabaran nuh!"

tapi anak-anak lain datang dan merusak perahunya sambil mengejek: "gila! gila! gila!"

suatu ketika, entah terjadi kapan, ia tak lagi sabar dan akhirnya marah. tiga anak-anak ditangkap dan dihajarnya, orang-orang marah padanya, balik menghajarnya. suatu ketika, entah terjadi kapan, ia menemukan bangkai perahu lain. "ini perahu nuh" katanya suster rumah sakit jiwa menampar wajahnya dan berkata: "tolol, ini kamaluanku."

Cinta adalah sebuah kegilaan. Setidaknya, itu dapat ditangkap dari sajak ini. Entah bagaimana perahu Nuh -- sebagaimana dikisahkan dalam cerita nabi-nabi -- menjelma dalam kepala seseorang, entah siapa, dan bukan siapa-siapa. Anak-anak menyebutnya “gila”.

Tapi, itulah cinta. Dan, Budi pun mengakhiri puisi ini dengan humor pahit dan sedikit (tidak) jorok: "tolol, ini kemaluanku."

Sajak ini seperti ingin menyodorkan sebuah nilai kebenaran, kejujuran, dan kesabaran dari sudut pandang lain berbeda sama sekali.

Membaca "Cerita tentang Perahu", tidak bisa tidak kita segera terhubungkan dengan sebuah sajak Sapardi Djoko Damono ini: Perahu Kertas Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan. "Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu. Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, "Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit." (dari Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas, 1982).

Ada kemiripan sajak "Cerita tentang Perahu" dan "Perahu Kertas". Tapi, jelas berbeda. Keduanya sajak dari penyair berbeda ini, boleh dibilang, liris-naratif. Keduanya menggunakan anak-anak (kanak-kanak) dalam menggarap sajak.

Namun, gaya repetisi yang digunakan Budi dalam sajaknya, tidak dilakukan Sapardi. "Perahu Kertas" mengalir begitu saja sampai kemudian mendengar Nur. Dan, barulah kita berpikir tentang sebuah peristiwa beratus-ratus tahun dulu berkali-kali dituturkan.

Entah, Budi hendak "menyindir" atau apa, sajak "Cerita tentang Perahu" berlainan sekali dengan sajak Sapardi itu. Barangkali saja Budi hendak mengkritik kaum agamawan menjadi "gila" justru karena ajaran agama itu sendiri. Entahlah...

* * *

Selanjutnya, Budi seperti mengajak saya kembali ke pekon (kampung halaman).

ke tapian nauli, ingatanku selalu kembali mendengar deru angin berbaris menuruni lereng sibualbuali menyimpan cerita tentang hutan yang asri dalam aromanya dan meledakkanya menjadi gemericik air di air sungai dimana kaperas menari begitu gemulai di antara pasir, batu-batu besar, dan lumut pada batu-batu itu semua itu seperti cerita inang selalu menyeru-nyeru datang: "pulanglah, pulang, amangku sayang!" ("Mulak", Budi P. Hatees)

Bukan mengada-ada jika ingatan saya segera terseret ke pekon tempat saya dilahirkan di Bukit Barisan Selatan, di Kaki Gunung Pesagi itu. Walau tak sama persir, saya merasakan suasana yang mirip sebagaimana digambarkan Budi dalam sajak ini.

Saya juga punya sajak serupa (sori, saya numpang sosialisasi!). Saya kutipkan.

bagaimana bisa aku lupa ketika dingin, embun, dan gerimis pagi memanjakan tubuhku yang letih. kehangatan kopi kentalmu membangunkan semangat menuju ladang, sawah, dan kebun kehidupan. jalan setapak berliku-liku yang basah kehujanan semalam menguatkan langkah kaki petani-petani menyongsong matahari. palawija, padi, dan kayu manis adalah anugerah dari kesuburan tanah di balik bukit. berdiri di ketinggian sekara jaya, aku menyaksikan awan-awan tersangkut di bukit bukit. desir angin, gemericik air, dan desau ilalang membisikkan gelora cinta liwa kota berbunga ke telingaku. lembah-ngarai dan telaga ham tebiu semakin mendalamkan makna kehadiranmu dalam setiap denyut zaman. ("Bagaimana Mungkin Aku Lupa", Udo Z. Karzi)

Lahir di sebuah daerah yang – saya sebut saja — indah permai di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 3 Juni 1972, Budi banyak "menganyam" kekayaan alam itu bagi idiom-idiom dalam sajak-sajaknya. Selain sajak di atas, beberapa idiom alam dilekatkan pada puisinya, seperti angin tembaga, langit yang beku, hujan segera turun, sebatang sungai, pasir, ombak, laut, daun-daun, kopi, lada, dan seterusnya.

Budi juga bertutur tentang dirinya (aku liris), laki-laki dan atau kelelakian, perempuan dan atau keperempuanan, kakak, istri, anak, pacar, sebuah tempat-sebuah waktu, dan atau banyak tempat-banyak waktu.

* * *

Barangkali, menarik juga menyimak imajinasi Budi P. Hatees mengenai Lampung, lebih tepatnya Bandar Lampung. Setidaknya, empat puisi dalam manuskrip ini: "Kota ini Mengutuk Siapa Saja", "Seandainya", "Lampung", dan "Gedung-Gedung di Kota"; dapat kita tandai sebagai "pandangannya" tentang Lampung atau Bandar Lampung, sebuah daerah asing yang kemudian menjadi tempatnya bermukin sejak sembilan tahun lalu.

Saya tak mengerti mengapa Budi berkata: dikutuk di kota ini, tinggal sendiri memanjakan kekufuran, mengabaikan kematian ("Kota Ini Mengutuk Siapa Saja", Budi P. Hatees)

Bandar Lampungkah yang dimaksud? Entahlah. Tapi, jangan-jangan semua kota telah mengutuk kita. Tak hanya Budi.

Soal kemelut politik di Lampung, yang tak juga usai boleh jadi, inilah yang hendak dipotret Budi: sudah! sudah! sudah kataku! sudah lama ruang ini didekap gelap hingga kita selalu meraba dan saling menabrak kita selalu mengaduh oleh rasa sakit yang sama nyeri yang tak terawat ("Lampung", Budi P. Hatees)

Sudahlah, ini semua soal cinta. Rindu-dendam, konflik-integrasi, perang-damai, dan seterusnya adalah kata lain dari “cinta”. Cinta adalah .... Dia menjadi sumber energi yang tak habis untuk menggali kreativitas. Dia tak pernah menjadi basi. Budi bertutur tentang apa saja, tentang siapa saja -- tentu, banyak hal yang luput dari amatan saya -- muaranya sama: cinta.

Pat Kai, tokoh manusia babi dalam cerita serial televisi “Kera Sakti” (baca: Udo Z. Karzi, “Begitulah Cinta” dalam Etos Kita, Moralitas Kaum Intelektual, 2002), memang berkata: "Begitulah cinta, deritanya tiada akhir...." Tapi, tetap saja cinta membuat hidup terasa lebih hidup. Dan, Budi tahu persis bagaimana mengolah cinta itu.

--------- * Esai untuk diskusi sajak-sajak Budi P. Hatees yang dibacakan dalam Bilik Jumpa Sastra yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung, Jumat, 18 Agustus 2006

Komentar saya atas esai ini: sajak dangkal dikomentari secara dangkal pula

Ada Apa dengan Para Sastrawan Lampung?
Esai Dahta Gautama

PERKEMBANGAN dunia sastra di Lampung memasuki tahun 2000 hingga 2005 begitu gegap gempita. Setidaknya, ada 8 penyair dan cerpenis yang lahir pada rentang waktu itu. Untuk sekadar menyebut beberapa nama antara lain Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, M. Arman. AZ, Dyah Indra Mertawirana, Ardiansyah dan Alex R. Nainggolan. Memasuki tahun 2004 tiba-tiba 'menohok' seorang Lupita Lukman. Penyair perempuan ini begitu tiba-tiba langsung 'bermain' di koran nasional. Ada juga Y. Wobowo penyair asal Yogya yang kembali ke kampung halaman (Lampung) dan konsisten menyajikan suasana lokal dalam sajak-sajaknya.

Para sastrawan Lampung terkini itu lahir setelah era Iswadi Pratama, Ahmad Julden Erwin, Panji Utama, Budi P. Hatees, dan Udo Z. Karzi. Sempat ada kevakuman setelah era Iswadi dkk. Kevakuman itu sempat menjadi semacam kekhawatiran para pelaku sastra sebelum era Iswadi. Rentang tahun 1992--1996 Iswadi dkk begitu produktif menulis dan mempublikasikan karya-karyanya baik di media lokal maupun media pusat. Setelah itu pada 1997--1999, tak ada penyair maupun cerpenis regenerasi.

Namun, saya kira bukan semacam kelatahan bila mendadak memasuki tahun 2000 bermunculan nama-nama baru di belantara sastra ranah Lampung. Perkembangan kesusastraan modern di Lampung saat ini bisa dikatakan sebagai hal yang sangat fenomenal. Betapa tidak, hampir setiap minggu karya-karya sastrawan Lampung muncul di koran-koran pusat (nasional) dan Lampung sebagai lumbung sastra nasional juga diakui oleh pengamat dan pelaku budaya Nirwan Dewanto. Dengan terpublikasinya karya-karya para sastrawan era 2000 itu, notabene karena penilaian obyektif para redaktur budaya koran nasional, yaitu: mutu!.

Namun ada apa sebenarnya dengan para sastrawan Lampung? Mundur ke belakang, saya akan sedikit bercerita. Saya masuk Lampung pada 1997, sebab pada 1991 hingga 1997 saya bermukim di Bengkulu. Namun, dari teman-teman di Lampung dan ketika saya bermukim di Bengkulu, Lampung Post Minggu juga masuk Bengkulu, lalu saya menjadi tahu peta kesusastraan di Lampung. Sehingga meskipun tidak bermukim di Lampung dengan sangat akrab saya mengenal nama-nama: Iswadi Pratama, Gunawan Parikesit, Budi P. Hatees, dll.

Cerita pribadi saya tersebut sebagai instrumentalia pengetahuan saya akan peta sastra di Lampung sesungguhnya cukup lengkap. Mulai dari sastrawan A. Malik Zulqornain hingga Lupita Lukman, cukup saya kenal walaupun hanya sebatas 'kenal' pada karya-karyanya saja.

Mengenal rekan-rekan sastrawan dari berbagai generasi tersebut saya menjadi tahu bahwa kalau ada semacam 'kubu' di dunia kesustraan modern di Lampung. Pengetahuan saya tentang 'kubu' sastra di Lampung ini saya peroleh dari polemik-polemik yang kerap muncul di media massa. Yaitu antara sastrawan Budi P. Hatees dan sastrawan Isbedy Stiawan ZS (Budi P. Hatees adalah sastrawan yang bekerja di Harian Lampung Post sebagai wartawan dan redaktur budaya).

Pada tahun 2002 semacam 'kabar burung' bahwa penyair Budi P. Hatees memiliki basis penyair-penyair muda seperti Alex. R Nainggolan dan Dina Oktaviani (mungkin ada beberapa nama lainnya). Pada saat itu polemik mengenai usul 'pensiun' bagi sastrawan angkatan tua harus segera dimulai. Dalam sebuah Diskusi Sastra di DKL Dina Oktaviani meminta agar para sastrawan tua yang tidak produktif atau setengah produktif sebaiknya pensiun saja dari ranah sastra. Kemudian opini tersebut menjadi polemik yang cukup dahsyat, saat Alex R. Nainggolan juga mendukung usulan Dina tersebut dalam esai sastranya yang dimuat di Lampung Post. Polemik-polemik tersebut, terkesan memanah Penyair Isbedy Stiawan ZS, sehingga Isbedy mesti menjawab tantangan para pengkritiknya dalam sebuah tulisan di media massa.

Sementara dari kubu Isbedy ada penyair Jimmy Maruli Alfian, Ari Pahala Hutabarat, M. Arman AZ dan sebagian sastrawan-sastrawan muda lainnya. Sekali lagi ini cuma kabar burung, kebenarannya tidak otentik.

Namun, terlepas dari ada kubu-kubuan atau blok-blokan tersebut, sebagai insan sastra saya menilai bahwa dinamika kesusastraan modern di Lampung kurang cukup kondusif. Hak jawab yang dilakukan sastrawan Isbedy Stiawan ZS di Lampung Post, 9 Juli 2005. Ketidakpuasannya atas pemberitaan di Lampung Post tentang peluncuran kumpulan cerpen Sendainya Kau Jadi Ikan di Toko Buku Gramedia, tulisan tersebut melibatkan penyair Iswadi Pratama yang 'memang' tak pernah berkata-kata seperti apa yang ditulis di dalam berita tersebut. Kemarahan Isbedy Stiawan dalam hak jawabnya kepada Budi P. Hatees, sungguh 'pasti' telah menyesakkan bagi para sastrawan lainnya yang memang tak pernah tahu sesungguhnya ada apa antara Isbedy Stiawan ZS dan Budi P. Hatees.

Namun itulah dinamika? Polemik dan 'keributan' kecil bukan hanya milik wilayah politik. Namun, juga merambah sastra. Mungkin ada politik di sastra?

Mohon dimaklumi, apabila saya begitu khusus membicarakan dua tokoh sastrawan ini (Isbedy Stiawan ZS dan Budi P. Hatees). Karena saya kira bukan menjadi rahasia lagi di kalangan para sastrawan muda lainnya, bahwa memang ada semacam 'pergulatan' halus antara mereka berdua.

Mengapa harus ada pergulatan, kebencian dan permusuhan? Bukankah kita sama-sama insan sastra? Sastrawan peraih Nobel Derek Walcott dalam pidato budaya sastranya mengatakan bahwa penyair akan tumbang dan kesepian ditinggal sajak-sajaknya apabila ia mengacaukan wilayah orang lain dalam urusan pribadinya. Itu artinya sastrawan tidak boleh jauh-jauh dari nurani, jangan berpolitisasi dan berdendam-dendam.

Ada apa dengan Isbedy Stiawan ZS dan Budi P. Hatees? Entahlah hanya mereka berdua yang tahu. Pasti ada yang masih tersisa di masa lalu dan masih ada yang tersimpan di hati hingga kini.

Sesungguhnya dua sastrawan ini memiliki kesamaan. Sajak-sajak mereka meski lain gaya, namun sama-sama profetik dan indah. Sesungguhnya kedua penyair ini telah berhasil menyuguhkan dunia madu dalam sajak-sajaknya. Ada tema kemanusiaan, Tuhan, cinta, sosial dan keadilan. Namun mengapa berseteru?

Mari kita simak sajak Budi P. Hatees: cukup sudah kehadiran ini/di sini di ruang sunyi/aku tuliskan pada dinding-dinding/kesepianku/selamat datang, malam!/kelam ini menggeliatkan pucuk-pucuk mimpi/seperti kelelawar berdiam di sana/ribut mencium/ diteteskan waktu ("Syair Persahabatan III").

Lalu kita simak sajak Isbedy Stawan ZS: telepon saja tak memberiku waktu/untuk bersapa/denganmu/lantas apalagi yang bisa kuharapkan/ketika kau putar/haluan perahumu/ke dermaga lain/inilah musim/kau bisa datang/dan berangkat kemana suka ("Dari Sebuah Telepon").

Dalam sajak 'Syair Persahabatan III' Budi P. Hatees mengharapkan kehadiran orang saat ia berada di ruang tak berpentilasi. Yang ada hanya sepi, padahal ia ingin bersapa dengan seseorang. Kemudian ia menjadi gagap ketika tak bertemu orang yang ingin ia ajak bercakap-cakap, serasa berada di klimaks mimpi.

Sajak "Dari Sebuah Telepon" Isbedy Stiawan ZS memberi waktu kepada siapa saja yang ingin menyapanya melalui telepon. Namun, tidak ada yang ia harapkan ketika orang-orang pergi ke dermaga untuk naik perahu pergi ke suatu pulau, kemudian menyendiri dan bersunyi-sunyi di sana.

Sinkron bukan, kedua isi sajak dua penyair yang sedang berseteru itu? Bila Budi P. Hatees ingin menyapa siapa saja untuk mengisi sunyinya, agar ia tak menjadi gagap ditengah gegap gempita peradaban. Bahkan pada klimaks mimpinya ia tetap ingin bercakap-cakap, tetapi ternyata tetap sunyi yang hadir.

Sementara, Isbedy Stiawan ZS selalu saja memberi waktu kepada seseorang yang ingin bercakap-cakap dengannya meski melalui telepon. Namun, orang yang ia harapkan untuk menelepon lebih memilih menyendiri dan menyusuri jalanan sunyinya.

Sajak-sajak kedua penyair ini adalah sajak yang dalam nilai moralnya. Mungkin 'kedengaran' sederhana namun ada kerinduan yang mendalam antara keduanya untuk saling menyapa.

Lalu ada apa dengan Isbedy Stiawan ZS dan Budi P. Hatees, mengapa tidak mencoba saling menyapa. Padahal, kebutuhan untuk saling bercakap-cakap secara moral dari lubuk hati yang paling dalam telah tersusun dalam bait-bait sajak mereka. Alangkah indahnya, apabila sajak yang telah tersusun itu mampu pula menyusun tumpukan 'mungkin' kebencian yang terlanjur telah ada. Demi persahabatan yang telah ditawarkan alangkah eloknya bila dimulai percakapan yang bisa dimulai melalui pesawat telepon. esai dimuat di lampung post Minggu, 17 Juli 2005 Komentar saya atas isi esai ini: "saya dan bang isbedy selalu saling menyapa."

Minggu, Maret 15, 2009

Membaca Sajak-Sajak Okky Sanjaya

BEBERAPA tahun lalu, seorang buruh sebuah pabrik di Tangerang, diseret ke meja hijau. Sepotong sandal butut menjadi penyebabnya. Laki-laki lemah dan kurus itu, terhenyak mendengar vonis jaksa penuntut. Tak menyangka niat luhurnya mendirikan salat Zuhur di musalah pabrik akan berakhir di jeruji besi.
Ia dituduh mencuri sandal butut itu, padahal ia hanya memakai sandal itu saat mengambil wudhuk.
Kisah buruh dan sandal butut, menyasar ke relung-relung medan kehidupan kita sebagai potret kelam dari kemiskinan, kelemahan, dan ketertindasan manusia. Si buruh personifikasi yang kalah di hadapan hagemoni kapitalis, diktator baru di zaman komersialisasi yang mengemas keangkuhannya menjadi pasar dan menegasikan etika serta moralitas social. Sandal butut itu, yang seharusnya menjadi sampah, menjadi alat pembunuh nilai kemanusiaan.


SANDAL di tangan kapitalis bermetamorfosis. Proses metamorfosis sandal itu mirip dengan idiom sandal dalam sejumlah sajak dalam manuskrip Belajar Memasak Sajak. Manuskrip ini berisi sajak-sajak Okky Sanjaya (selanjutnya Okky) yang muncul di sejumlah media cetak di Lampung maupun di luar provinsi ini, yang lahir dari proses panjang kepenyairannya sejak masih duduk di bangku SMA.
Metamrfosa sandal dalam sajak Okky bukan pada wilayah medan makna idiomatic, melainkan pada ranah pribadi Okky sendiri, dimana ia memanfaatkan kekuasaan akan kemerdekaan personal untuk membebaskan sandal dari kungkungan makna. Jika kapitalis pemilik pabrik membebaskan sandal butut dari makna sebagai barang usang yang layak jadi sampah menjadi barang luar biasa yang dapat menjebloskan seorang buruh ke penjara atau mencabut hak asasi manusia, maka Okky membebaskan makna yang mengekang sandal dari sesuatu yang diterima sebagai alas kaki menjadi hal-hal lain di luar fungsi yang disandang sandal selama ini.
Berbeda dengan pemilik barik, Okky memberi ruang sebebas-bebasnya bagi sandal untuk menjadi apa saja. Sandal tak perlu mesti manut, hanya mengusung makna tunggal, menggadang-gadang makna itu, dan memaksakan diri agar segala bentuk penafsiran berakhir dengan makna yang tunggal itu. Tidak ada otoritas dan karenanya tidak ada sikap otoriter untuk memaksakan makna tunggal. Yang ada cuma kebebasan dan kemerdekaan, sesuatu yang diidam-idamkan ummat manusia. Dengan kebebasan dan kemerdekaan, pembaca akan dibawa pada medan makna yang lebih kaya saat membaca sajak-sajaknya. Medan makna yang membebaskan pembaca dari segala ketakbebasan selama ini.


SANDAL bisa menjadi apa saja yang pembaca inginkan. Kita baca sajak “Bila Sandalku Telah Tiba”: bila sandalku telah tiba, dinda, hadapi saja_dunia yang serba ingin/tetap tertulis bersih. Sebagai tamu, nantinya kau akan mengerti pergi. /beranjak dari sekian tema, dari sekian kepiting kembara. Tak ada/salak anjing malam ini. Purnama belum tiba. Reranting mangga/tak terdengar patah di ujung seketika. Kecuali bila kau anggap/ini setia.
Sandal berada pada kedudukan metaforis. Diksi ini akrab dengan keseharian pembaca. Tapi, orang pasti membela diri bahwa setiap sajak memang tumpukan metafora, karena hakikat bahasa sesunguhnya metaforis. Sambil mengutif Roland Barthes dalam “The Death of the Author”, orang akan memberi pembenaran bahwa makna yang diniatkan seorang penyair dalam sajak-sajaknya, belum tentu akan diamini pembaca. Pembaca punya kebebasan besar untuk menafsir teks berdasarkan ranah pengetahuan, pengalaman, dan kebudayaan yang membentuknya. Mereka berhak memaknai apa pun tanpa harus dibayang-bayangi sosok penyair.
Tapi, sulit mengabaikan bahwa tafsir dan tradisi menafsirkan teks sastra akan memerdekakan manusia. Tafsir merupakan bentuk lain dari penjajahan terhadap manusia, dimana manusia mesti taklit dan patuh pada teori-teori tafsir sehingga mengabaikan kemungkinan-kemungkinan metaforis lain dalam berbahasa. Orang tidak sepenuhnya menjadi merdeka dalam menafsirkan teks sastra, mereka membiarkan diri dijajah oleh konvensi penafsiran. Mereka akan mengutif Barthes, Foucault, Saussure, Derrida, dan para pembawa post-strukturalis. Lebih usang lagi, mereka akan mengungkit sejarah bahasa, lalu sampai pada khazanah paling tradisional dari bahasa yang mantra.
Dalam sejarahnya, bahasa (kata) adalah penjajahan terhadap manusia. Aktivitas manusia dalam berbahasa merupakan penyakit pikiran. Manusia berusaha menamai benda-benda di sekitarnya, lalu penamaan itu menjadi konvensi. Manusia mewariskan konvensi itu tanpa reserve, manut dan tunduk. Tidak boleh ada makna lain di luar konvensi. Melanggar konvensi bahasa dituduh sebagai kegiatan yang hanya dilakukan orang yang tak waras. Padahal, tuduhan tidak waras lebih tepat ditujukan kepada manusia yang terlalu manut pada konvensi.
Maka, kata sandal diterima manusia sebagai alas kaki. Tapi, makna itu dimasabodohkan dalam sajak Okky. Sandal bukan cuma alas kaki. Konvensi bahasa bukti bahwa manusia belum merdeka sepenuhnya, hidup dalam alam keterkekangan. Manusia moderen adalah mahluk yang dilahirkan ke bumi sebagai individu yang terjajah. Begitu seorang bayi lahir ke dunia, saat itu juga ia menjadi mahluk yang dijajah. Mahluk yang taklit pada konvensi bahasa, membiarkan dirinya menjadi primitif, percaya pada kandungan magi setiap kata. Padahal kata mengalami diakronis, perkembangan dan perubahan dari masa ke masa memiliki pengaruh yang besar terhadap masa depan bahasa. Maka sandal, sebagai alas kaki, mengandung makna yang lebih dari sekedar alas kaki.
Diakromis bahasa hanya terjadi dalam situasi merdeka. Kata mesti dimerdekakan, karena hal itu berarti memerdekan manusia selaku pemiliknya. Di zaman Orde Baru, gejala eufemisme (penghalusan) bahasa telah menghasilkan entitas yang tidak manut pada konvensi, dimana bahasa dimerdekakan dari beban makna. Bahasa (kata) menjadi kaya makna. Kata “kiri”, misalnya, lebih dipahami dalam logika nasionalisme kebangsaan, bukan logika personal. Secara perlahan, kata “kiri” identik dengan sesuatu yang mesti dihindarkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kalau pemikiran Derrida dipakai, maka cara berbahasa Okky menemukan relevansinya. Makna dalam kata tidak sepenuhnya mampu menggambarkan realitas. Sebab itu, dalam berbahasa, kita mesti membebaskan diri dari “logosentris”. Artinya, penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Sementara tulisan, merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Dalam tulisan, penanda selalu produktif, mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified.
Apa yang dikemukakan Paul de Man, seorang teoritikus terkemuka dari Yale University, tentang bahasa sebagai teks sastra, layak dimunculkan di sini. De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis.


Okky merupakan generasi baru kepenyairan Lampung. Mengawali keterlibatannya dalam khazanah kesusastraan sebagai pembaca puisi yang serius (ia sering mendapat penghargaan karena kemampuannya “membaca” puisi begitu luar biasa), Ia membaca Sutan Takdir Alisjahbana yang merupakan penganut renaisan Barat sampai Sutardji Calzoum Bachri yang memberi makna baru pada mantra (magis kata). Ia juga membaca Isbedy Stiawan ZS yang menjadi ikon sastra kontemporer Lampung sampai Udo Z. Karzi yang tampil sebagai ikon sastra tradisi Lampung. Semua sajak yang dibacanya, membawa Okky pada simpul bahwa “penyair bukan entitas yang merdeka”. Nilai berbeda ia berikan pada Sutardji Calzoum Bachri. Kerja keras Suratdji membebaskan kata dari medan makna, sedikit banyak memengaruhi cara Okky berbahasa.
Dari “membaca” sajak-sajak, Okky menulis sajak. Sajak-sajak itu diperlihatkan kepada para penyair Lampung, tetapi karena cara berbahasanya melesat dari konvensi berbahasa para penyair kontemporer Lampung, tidak jarang pilihan diksi Okky dipersalahkan. Diksi-diksi dalam sajak terlalu konvensional. Terlalu banyak aturan. Teralu banyak tidak boleh. Terkekang. Tidak merdeka. Sastra, yang memerdekakan itu, di tangan para penyair Lampung justru sangat mengekang, sangat tidak memerdekakan.
Tapi, ketika Lampung Post membuka ruang Klinik Sastra pada decade awal 2000-an, Okky datang membawa sajak-sajaknya. Udo Z. Karzi yang mengasuh ruang yang dipersiapkan Lampung Post sebagai konsultasi sastra dalam rangka meregenerasi sastrawan di Lampung, kemudian menerbitkan sajak-sajak itu bersama dengan kritik pendek. Sejak itu, Okky makin sering menulis sajak, mengirimkannya ke sejumlah media dan kemudian menjadi bagain dari sastrawan Lampung.
Sayang, ruang Klinik Sastra tak muncul lagi. Kehadirannya yang sebentar, mampu merangsang kelahiran regenerasi sastrawan Lampung, yang memiliki kemerdekaan penuh atas aktivitas berkesusastraan. Beberapa nama dari generasi muda Klinik Sastra, kemudian bermetamorfosis, tak sedikit yang gagal. Okky termasuk yang bermetamorfosis, karena aktivitas berkesusastraan baginya tidak semata kegiatan menulis. “Apakah seorang penyair itu seorang filsuf?” tanyanya kepada saya.
Saya paham pertanyaan itu berangkat dari Subagio Sastrowardoyo dalam Simponi (1973) yang mengatakan “puisi adalah filsafat”. Tapi George Boas dalam ceramahnya yang terkenal, Philosophy and Poetry mengatakan “pemikiran dalam puisi biasanya basi”. Namun, upaya menjawab pertanyaan itu akhirnya membawa Okky pada sejarah pemikiran, yang membuatnya menyadari bahwa aktivitas berkesusastraan harus membuat seseorang memiliki sikap hidup intelektual: selalu mencari, selalu mengkaji, dan selalu tidak puas.


TAK puas pada sajak yang berangkat dari konvensi bahasa, membuat sajak Okky memiliki cara ungkap yang berbeda dari kebanyakan penyair Lampung saat ini. Ia tidak ikut hanyut dalam keseragaman pola ucap lirik naratif, yang diwariskan secara turun-temurun dari tradisi bersastra a la Unit Kegiatan Mahasiswa Bahasa dan Seni (UKMBS) Universitas Lampung. Komunitas yang menjelma sebagai “sekolah seni” di Lampung ini, banyak menghasilkan penyair , tetapi para “siswanya” selalu membawa ciri khas dari almamaternya. Sebuah sikap yang pasrah atas konvensi UKMBS, yang membuat menulis sajak hanya sebuah aktivitas kebersamaan, dan jangan bicara kemerdekaan di sana.
Penyair Lampung muncul dalam semangat pewaris konvensi yang membuat mereka bagai plagiator, Okky muncul dengan kesadaran penuh untuk memerdekakan penyair dari kekangan konvensi berbahasa itu. Mari kita baca sajak “Mengikat Pinggul Gorden”: cahaya apalagi yang kau persilahkan masuk/bukankah sejak tadi kita tak mematikan lampu,/mematikan gigi palsu?/ Apakah kau tak ingin ikut/melihat rembulan? Tidak. Aku takut cemburu. Atau sajak “Bertemu di Bukit Sandal”: kita diawali pergi, dan mencoba saling mengunjungi/mengetuk atau menjejak statusmu sebagai pencuri.
Satu hal yang bias ditangkap dari sajak-sajak itu, sebuah anjuran yang pernah dikeluhkan Alan A. Stone dan Sue Smart Stone dalam The Abnormal Personality Through Literature. Kita mesti memperlakukan sastrawan (pengarang) sebagai kolega, yakni orang yang dengan kerja keras berusaha mengungkapkan pengalaman hidupnya. Sastrawan adalah juru bicara realitas, tetapi tidak ada masyarakat yang memberi aplaus atas usaha mereka. Bahkan, para sastrawan sendiri sering saling mengejek, seolah-olah pekerjaan yang dilakukan sastrawan lain hanyalah kesia-siaan.
Hal ini terjadi karena sastrawan sebetulnya bukan orang yang merdeka. Mereka hidup dalam lingkungan yang dijajah oleh konvensi. Keterkekangan membuat mereka berpandangan sempit, dan menilai karya sastra orag lain bukan karya sastra. Sebab itu, mari kita rayakan kemerdekaan kreatif dari penindasan konvensi.

Regenerasi Penulis Mesti Dibangun

Ketika menelaah karya-karya sastra bermutu Budi P Hatees, saya tak perlu terlalu mengernyitkan dahi, apalagi sampai meneteskan keringat untuk memahami maksud yang tersirat. Membaca torehan tinta miliknya, terutama cerpen, seperti membaca tulisan jurnalistik yang runut, tak banyak menghamburkan metafora dan tergolong mudah dicerna.
”Terus terang, karya-karya saya berangkat dari fakta, terutama berbasis pengalaman baru dan unik yang saya alami ketika melakukan liputan jurnalistik,” demikian ungkap pria kelahiran Sipirok, sebuah desa nan indah di Tapanuli Selatan, tepatnya tanggal 3 Juni, 37 tahun lalu. ”Ketika menulis, saya selalu mengawali dengan menulis berita. Setelah berita yang saya tulis terbit, biasanya saya mengolah berita itu sedemikian rupa, diberi sentuhan fiksi disana-sini, lalu jadilah cerpen dan sajak. Tapi yang paling sering, berupa cerpen,” lanjut Budi pula. Ya, ya, sedapnya menikmati karya sastra yang selalu dituang dari ide-ide segar, mengangkat tema yang lain dari yang lain, dan tak pala berat disingkap maknanya. Singkat cerita, pemilik nama lengkap Budi Parlindungan Hutasuhut ini mengakui kalau jurnalistik sangat memengaruhi kemampuannya dalam menulis karya sastra.
Dalam alur kehidupan Budi, jurnalistik dan sastra ibarat sepasang saudara kembar yang tak terpisahkan. Putra kedua dari pasangan Rencong P Hutasuhut dan Nurhayati Nainggolan ini sebenarnya bisa saja menekuni bidang lain, namun dunia jurnalistik dan sastra membuatnya lebih puas dalam mengekspresikan diri. Tak dipungkiri, ada figur seorang ibu di balik keberhasilan Budi. Dulu, sang ibu (yang juga seorang seniman perajin kain adat Sipirok) rajin membelikan buku-buku dan sering meminta Budi kecil untuk menceritakan kembali isi buku yang usai dibaca. Secara tak langsung, andil sang ibu telah membuat Budi jatuh hati pada dunia membaca dan menulis.
Saat masih duduk di bangku SMP, Budi sudah menelurkan karya. Sajak-sajaknya muncul di beberapa harian daerah Sipirok dan Sumut. Cerpennya pun dimuat di majalah remaja ibukota. Selanjutnya, karya-karya Budi seolah tak henti meramaikan media cetak lokal dan nasional. Maka, berangkat dari kampung halaman dengan membawa modal kreativitas menulis, pria yang mulai keranjingan melahap buku-buku sastra di perpustakaan sekolahnya saat beranjak remaja ini, memberanikan diri merantau ke Jakarta (tahun 1991). Di sana Budi menimba ilmu di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Karena rencana awalnya adalah mengembangkan kemampuan menulis, maka Budi bergabung dengan sejumlah komunitas mahasiswa jurnalisme. Di sinilah ia berkenalan dengan seluk-beluk dunia jurnalistik.
Budi juga memasuki pergaulan sastra. Pria berpenampilan kalem ini aktif dalam kegiatan di Sanggar Sastra Diah Hadaning di Bogor. Ia senang menghadiri agenda-agenda sastra dan berkenalan dengan sejumlah redaktur. Dengan langkah tegap dan bersemangat, Budi menapak dinamika sastra Jakarta. Tak jarang ia terlibat polemik dengan para sastrawan.
Namun, meski berada di tanah orang, Budi yang semasa mahasiswa sempat bekerja menjadi wartawan majalah ekonomi ini, tak ingin lepas dari bayang-bayang tradisi dan budaya asal yang telah menyatu di setiap hela nafasnya. Budi tak hanya menggeluti jurnalistik dan sastra. Ia mendekap seni tradisional, menjadi penari dan pemukul gendang di Perkumpulan Masyarakat Adat Sipirok Jakarta. Tujuan dari perkumpulan seni tradisional ini adalah agar warga keturunan Batak Angkola (Sipirok) yang bermukim di Jakarta tak melupakan adat istiadat leluhurnya.
Tahun 1995, Budi hijrah ke Medan. Lagi-lagi ia berkecimpung dengan sejumlah kegiatan sastra dan menjadi pengamat serius atas perkembangan sastra nasional dalam wadah bernama Forum Kreasi Sastra (FKS). Almarhum NA Hadian dan A Rahim Qahar adalah dua sosok yang sering melontarkan kritik atas karyanya dan kerap berbagi cerita tentang dunia kreatif sastra. Namun, setelah beberapa kali sempat menyisir cakrawala sastra di kota metropolitan, yakni Medan dan Jakarta, akhirnya, Lampung adalah tempat yang dirasa Budi paling pas sebagai pelabuhan inspirasi. Alam Lampung yang belum terjamah dan kondisi lingkungan yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi, memberinya banyak ilham untuk berkarya.
“Di Lampung saya memutuskan menjadi jurnalis. Saya memiliki kolom di koran Lampung Post. Isinya menyikapi masalah sosial masyarakat yang paling aktual. Menulis kolom membuat saya sangat mengutamakan aktualitas dalam menulis,” terang pria yang pernah menjadi juara pertama lomba menulis puisi dalam rangka ulang tahun Medan (bertajuk Medan Bestari) ini. Di Lampung pula, Budi bersua dengan sang belahan jiwa yakni Hesma Eryani, sesama teman kerjanya di Lampung Post. Pasangan berbahagia ini dianugerahi gadis cilik nan cantik bernama Raraz Asghari Ghiffarina Hutasuhut (11 tahun). Peran keluarga ibarat bara yang terus membakar hasrat Budi agar tak lelah berkarya.
Dan ternyata, pria yang telah melahirkan sejumlah buku (kebanyakan antologi sajak dan cerpen) antara lain: Getar II (Sanggar Batu Beramal, Madang, 1995); Graffiti Grattuted (Penerbit Aksara Bandung, 2001); Malam Bulan (Penerbit Metafor, 2003); Ketika Duka Tersenyum (FBA Press, 2002); Cermin dan Malam Ganjil (FBA Press, 2002); Ini Sirkus Senyum (Penerbit Metafor, 2002); Konser Ujung Pulau (Dewan Kesenian Lampung, 2003); Dua Generasi (Jung Foundation, 2004); Dilema Orang Lampung: Membangun Tradisi dengan Sikap Tradisional (Penerbit MataKata, 2005); dan Matinya Pemimpin Adat (Penerbit MataKata, 2007) ini, tak hendak menyimpan ilmu bagi diri sendiri. Ia ingin para generasi muda juga mencintai dunia jurnalistik dan sastra.
“Saya berkeyakinan kalau regenerasi mesti dibangun,” tegas Budi. “Untuk mewujudkannya, saya meninggalkan dunia jurnalistik dan memutar haluan dengan menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi,” sambungnya. Penulis yang menjabat sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung ini juga memprakarsai berdirinya organisasi kepenulisan (Forum Lingkar Pena) di Lampung dan Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung. Tak tanggung-tanggung, Budi pun terjun langsung ke dunia penerbitan buku dengan mendirikan Penerbit MataKata bersama rekannya, sang penyair, Y. Wibowo. Penerbit itu memiliki program regenerasi penulis. Berkat kegigihan dan tangan dingin Budi serta rekan-rekan, beberapa kader mereka telah tampil sebagai penulis. Pria yang sempat mengecap pendidikan Magister Management di Universitas Bandar Lampung, menyimpulkan bahwa kemampuan menulis identik dengan kemampuan menganalisis. Bila seseorang suka menulis, maka ia akan selalu ‘resah’ untuk membuat analisis. Untuk itu, diharapkan para generasi muda akan menjadi manusia-manusia yang peka dengan persoalan yang melingkupi masyarakatnya.
Sejak lampau, Budi telah merangkai angan, kelak ia akan menulis buku mengenai tanah kelahirannya, Sipirok. Sepertinya angan itu akan segera menjadi nyata. Kini, Budi yang hari-harinya juga disibukkan dengan ragam kegiatan sebagai fasilitator, pembicara, dan moderator di sejumlah pelatihan, seminar dan diskusi, tengah berusaha merampungkan sebuah novel yang berisi biografi sang ibu, lengkap dengan persoalan politik tahun 1950 dan fenomena kultural di lingkungan masyarakat adat Angkola Sipirok. Novel yang diberi judul Sungai Inang, diramu dengan aneka bumbu politik, adat, antropologi, serta agama. “Inspirasi Sungai Inang saya dapat dari membaca buku Lance Castle tentang Tapanuli,” Budi menjelaskan.
Sambil menulis novel, Budi juga menggarap buku tentang Kabupaten Tapanuli Selatan. Demi kepentingan pendalaman karya-karyanya, sekarang Budi menetap di Sipirok. Sesekali ia jalan-jalan ke Medan untuk riset tentang Medan tahun 1950-an.

Haya Aliya Zaki

Senin, Juli 28, 2008

Dilarang Memusuhi Musuh

INGATAN paling lekat setelah membaca sebuah novel yang saya lupa judulnya juga penulisnya adalah "penilaian paling benar selalu datang dari musuh Anda". Inilah hal paling logis yang selalu diterima dengan emosional, karena di dalam memori kita sudah tertanam bahwa seorang musuh adalah orang yang harus dicurigai. Itu sebabnya kita selalu dihantui musuh kita, meskipun musuh kita tidak pernah berpikir soal bagaimana caranya menghantui kita terus-menerus.
Tapi, soal ini bisa diatasi setelah saya mengingat esensi sebuah cerita detektif--saya juga lupa judul novel dan penulisnya--yang menyarankan bahwa "tempat paling aman adalah sarang musuh".
Kedua logika berpikir itu sejalan. Musuh, apapun bentuknya, tidak boleh dimusuhi. Ada baiknya, musuh ditemani, sehingga dia tidak punya peluang untuk berpikir menghancurkan musuhnya. Kalaupun ada pikiran itu, setidaknya, kita sebagai musuhnya sudah punya antisipasi.
Apakah hal itu berarti bahwa kita harus menjadi pengkhianat? Apakah kita harus menjadi spionase?
Tentu saja tidak. Yang paling pas untuk menyebutkan situasi kita adalah meningkatkan kewaspadaan. Tawaran itu merangkum di dalamnya, bahwa kita senantiasa perlu introspeksi diri. Setiap hal yang kita lakukan, harus dipikirkan baik dan buruknya. Jangan lupa soal dampak yang disengaja maupun tidak. Sebab, sebagai mahluk sosial dan bagian dari sebuah sistem sosial, kita tidak bisa mengabaikan adanya gesekan dengan elemen sosial lainnya. Kita harus selalu berpikir bahwa apa yang kita anggap benar belum tentu demikian halnya bagi orang lain. Hal itu menandakan, selalu akan ada gesekan dalam kehidupan sosial kita dengan elemen-elemen sosial lainnya, sehingga dibutuhkan perhatian yang serius atas setiap implikasi dari keputusan yang kita buat.
Dengan begitu, setidaknya, kita bisa menghindari untuk dimusuhi orang lain.
Tentu saja persoalannya tak segampang itu. Sebab, kita berhadapan dengan manusia yang beragam, mulai dari watak sosial hingga watak kulturalnya. Setiap perbedaan yang ada di lingkungan masyarakat kita bisa menjadi berkah sekaligus mudarat. Kita harus siap menghadapi dua kemungkinan itu.
Lantas, apa yang harus kita lakukan, jika ternyata musuh kita lebih banyak daripada teman kita?
Kita tak mengharapkan hal itu. Tetapi selalu ada friksi dalam kehidupan sosial yang tidak bisa dihindari. Artinya, kita sudah berupaya agar tetap disukai orang lain, tetapi ada saja orang lain yang selalu berusaha untuk tidak menyukai kita. Hal seperti itu bisa saja muncul akibat kecemburuan sosial, perasaan tersaingi, merasa tidak nyaman terhadap keberadaan orang lain, dan banyak faktor negatif lainnya yang tidak kita sadari telah tumbuh membesar di lingkungan kita.
Di lingkungan pekerjaan misalnya. Hampir setiap institusi bisnis diwarnai friksi-friksi antara karyawan. Selalu saja ada kelompok "yang senang" dan "tidak senang". Setiap kelompok selalu ingin menonjol. Akan berbahaya bagi kelangsungan manajemen institusi bisnis itu jika leader-nya cuma butuh pujian, dan tidak mencoba melihat persoalan intrinsik perusahaan dari sudut pandang yang holistik: masa depan yang lebih bagus. Dalam kondisi seperti ini, setiap sumber daya manusia akan dihantui ketakutan menjadi "korban" atas kondisi yang tak produktif, sehingga kreativitasnya tidak berkembang. Pada akhirnya, mereka akan diseret memasuki dua cabang jalan: ikut larut dalam kondisi tidak produktif atau menjadi sempalan. Sebab, tak akan ada yang berani memilih jalan keluar dari persoalan, karena telah kadung terjebak di dalamnya.
Persoalan serupa itu muncul karena tidak seorang pun berpikir bahwa seperti dalam kehidupan manusia, tidak semua cita-cita bisa diwujudkan. Tapi, yang paling esensial adalah dilarang memusuhi musuh, bahkan kalau bisa jangan pernah memusuhi siapa pun. Di bulan puasa ini, ada baiknya membiarkan segala sesuatunnya mengalir seperti sebatang sungai yang selalu akan mengikuti urat-urat bumi dari tahun ke tahun. Dan, sepanjang daerah aliran sungai itu, senantiasa menghijau tetumbuhan dan hewan-hewan berkembang biak. Itulah kehidupan yang paling layak.

Sabtu, Juli 26, 2008

Maaf

MEMOHON maaf adalah ekspresi peradaban yang sangat manusiawi dan mulia. Orang mohon dimaafkan karena telah alpa atau bersalah, baik sengaja maupun tidak. Dan, adalah ekspresi peradaban yang manusiawi dan mulia pula, apabila kepada orang yang memohon maaf diberikan maaf.

Presiden Megawati Soekarnoputri kemarin tampil di depan Sidang Tahunan MPR. Dalam pidato setebal 28 halaman, Megawati membeberkan apa saja yang sudah dan belum dikerjakan selama tiga tahun pemerintahannya. Secara runtun dan apa adanya disebutlah soal-soal yang masuk dalam kategori berhasil dikerjakan dan yang belum berhasil.

Di antara yang berhasil adalah peletakan dasar ekonomi makro yang stabil, pengukuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sempat terancam disintegrasi di awal reformasi, penataan fungsi dan tata hubungan antarlembaga tinggi negara, dan banyak lagi yang lain.

Sedangkan masalah besar yang tidak berhasil dilaksanakan adalah peningkatan lapangan kerja, dinamisasi sektor riil, peningkatan anggaran belanja sektor pendidikan serta pemberantasan korupsi.

Kita semua tahu bahwa krisis yang melanda Indonesia demikian hebatnya, sehingga tidak mungkin diselesaikan hanya oleh seorang presiden dalam waktu yang singkat. Di tengah guncangan persoalan yang demikian besar itu, tentu menjaga agar bangsa Indonesia tetap berada dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan hal terpenting. Karena tidak mungkin mengerjakan program apa pun bila Indonesia sebagai rumah bersama tidak ada.

Akan tetapi, represi yang dialami bangsa ini selama tiga dasawarsa Orde Baru dan krisis dahsyat yang muncul di tahun 1997, telah menyebabkan rakyat tidak sabar. Rakyat ingin semuanya berlangsung cepat. Sayangnya pemerintah tidak cukup membangun kesadaran kita semua untuk bersabar.

Di akhir masa jabatan periode pertama dan di tengah bayang-bayang kekalahan, Mega tetap tegar dan dingin berbicara di depan Sidang Umum MPR. Atas segala kekurangan Megawati memohon maaf kepada segenap bangsa Indonesia.

Tidak terucap sepatah kata pun dari Mega yang memohon pujian atas segala yang baik yang telah dikerjakan dalam tempo tiga tahun. Diminta atau tidak, sebagai rakyat yang tahu berterima kasih, kita tidak saja membuka pintu maaf, tetapi juga menghaturkan pujian kepadanya.

Kita sekarang memasuki sebuah tradisi baru, yaitu penggantian pemerintahan tanpa gejolak berarti. Megawati, dengan segala kewenangan sebagai presiden yang sedang berkuasa, menjaga dengan sepenuh hati agar pergantian pemimpin tertinggi nasional yang di masa lalu penuh dengan gejolak dan darah, menjadi pergantian yang aman dan damai dalam semangat demokrasi.

Reformasi telah membuka euforia bagi sebuah tradisi baru dalam pemerintahan. Yaitu, pemerintahan yang baru menyalahkan pemerintahan yang lama atas segala ketidakberesan.

Kebiasaan seperti itu hendaknya ditiadakan. Seseorang yang dengan tahu dan mau menjadi pemimpin negeri ini, harus tahu dan sadar untuk memikul semua tanggung jawab. Kalau hanya menyalahkan para pendahulu, maka kita akan terjebak dalam debat kusir yang tidak pernah akan menyelesaikan masalah.

Kita bersyukur bahwa calon Wakil Presiden Jusuf Kalla berjanji untuk tidak menyalahkan masa lalu bila dia dan Susilo Bambang Yudhoyono memimpin negeri ini mulai 20 Oktober mendatang. Semoga ucapan itu bisa dipegang teguh.

Orang Sakit

HASAN yakin ia sedang berada di dalam sebuah rumah sakit besar, bersama para pasien, lengkap dengan keluhan-keluhan rasa sakitnya. Rumah sakit besar itu adalah kumpulan klinik. Semula ia tidak yakin soal itu. Tapi, setelah ia berbicaralah dengan sebagian besar manusia, barulah ia yakin.

Mula-mula ia mengajak tukang becak ngobrol-ngobrol. Ketika si tukang becak meng-goes dan ia duduk di dalamnya, sepanjang perjalanan dari pasar ke rumah, ia mencatat sekian banyak keluhan berkaitan rasa sakit yang diderita rakyat kecil. Si tukang becak mengeluh: "Bagaimana para anggota DPRD Lampung itu? Mereka cuma mengurus urusan pribadi, sibuk memperkaya diri. Mereka membicarakan soal bangunan yang tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bukan supaya peraturan dilaksanakan, tetapi agar mereka punya celah untuk "menggerogoti" pengusaha".

Suatu ketika ia berada di gedung DPRD Lampung, dan bercakap-cakap dengan beberapa wakil rakyat. Ia, kembali, mencatat keluhan-keluhan rasa sakit yang diderita para wakil rakyat. Rasa sakit berkaitan perilaku eksekutif, rasa sakit akibat perilaku pengurus partai politik, dan rasa sakit akibat perilaku kawan-kawan sesama legislatif. "Saya tidak mengerti mengapa recal tetap ada, padahal jelas melanggar hak asasi seseorang. Ini negara sedang menuju kehancuran. Itu akibatnya kalau pemimpin tak punya visi ke depan," keluh seorang anggota Dewan.

Beberapa jam kemudian, ia bertemu seorang pejabat pemerintah daerah. Sebutlah orang itu seorang kepala dinas, dan ia mendengarkan keluhannya. "Saya tidak mengerti apa isi kepala para anggota Dewan itu. Sebagai pejabat pemerintah, saya punya tanggung jawab untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), tetapi sebagian besar PAD itu malah untuk membayar gaji mereka. Ditambah perilaku para pengusaha yang selalu meminta dinomorsatukan dalam urusan pembagian proyek, sementara soal pembayaran pajak mereka meminta diposisikan di nomor ke sekian."

Saat itu ia mulai bingung. Selesai bertemu pejabat itu, ia pergi ke warung di komplek kantor pemerintahan daerah untuk mengopi. Di sini, Mpok Elwina, menyerbunya dengan sekian banyak keluhan. Sebetulnya Mpok Elwina tidak bermaksud membebani pikiran Hasan, tetapi ia merasa kurang segar kalau tidak mengungkapkan seluruh unek-uneknya.

Keluh Mpok Elwina: "Kurang ajar para pejabat di kantor ini. Sudah tahu pedagang kecil seperti saya modalnya cuma sedikit, masih juga utang. Eh, malah menyuruh anak buahnya yang bayar utang-piutangnya. Apa mereka tidak punya otak. Bagaimana pejabat seperti itu bisa memikirkan perekonomian rakyat, sementara yang di depan matanya saja tidak bisa dipahaminya?" Mpok Elwina masih berang, dan terlihat belum mau berhenti. "Kalau begini terus, bisa bangkrut aku. Pinjaman aku di bank bisa ndak terbayar."

Hasan diam saja sambil melihat seorang wartawan--Hasan mengenali lelaki itu--masuk warung. Belum duduk, si wartawan itu langsung mengeluh. "Dasar pelit. Dikira dia aku mengirim berita ke kantor pusat tanpa uang. Masa bodohlah! Tak kutulis berita dia ini. Apa kuputarbalikkan faktanya, biar tahu rasa dia...."

Masih banyak lagi yang dikeluhkan si wartawan itu, tetapi Hasan tidak mau mendengarkannya. Sebelum kopinya habis, Hasan pergi sambil menggerutu: "Ah, semua orang punya keluhan. Semua orang sudah jadi pasien." Seseorang yang berpapasan dengan Hasan dan mendengar ggerutuannya, menggeleng. "Sakit orang ini. Kasihan!"

Kesalehan

SEBUAH diskusi digelar Komunitas Rumah Panggung di Wisma Dahlia Bandar Lampung beberapa waktu lalu. Dalam diskusi yang kemudian jadi arena guyonan itu, salah seorang pembicara menyinggung soal agama (Islam) sebagai sebuah paradigma. Sesuatu yang tak akan bisa selesai dibicarakan, dan sudah mengisyaratkan tidak akan ada solusinya.

Tapi, di tengah-tengah realitas manusia Indonesia yang religius atau tampak religius, soal agama sebagai paradigma pemikiran itu tampaknya menemukan signifikansinya. Pandangan agama sebagai pemikiran telah melahirkan manusia dengan tingkat kesalehan yang paradoksal. Sebab, mereka selalu berkeyakinan bahwa agama sama persis dengan ilmu pengetahuan, cuma berarti pada tingkat kognitif.

Makanya, bangsa yang dikenal religius ini, ternyata benar-benar menjadi bangsa yang brutal, ganas, garang, bahkan kanibal, sehingga tidak lagi memiliki rasa perikemanusiaan. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Inilah pertanyaan sederhana, namun penting kita kaji bersama sebagai bangsa religius, sebelum habis kesabaran kita memilih menjadi bangsa non-religius. Itu sebabnya, ketika mereka berhadapan dengan realitas kehidupan yang keras, agama sebagai pengetahuan itu tidak mampu memberi pencerahan.

Agama justru menjadi sumber bagi munculnya pertikaian-pertikaian, yang memberi kesan seolah-olah agama diciptakan bukan untuk memurnikan jiwa manusia. Agama bukan untuk menjelaskan kepada manusia mengenai posisinya sebagai hamba di hadapan Yang Maha Kuasa, atau sesuatu seperti barang titipan di atas bumi yang suatu saat bisa diambil kembali oleh pemilik-Nya.

Sebab itu, sebagai bangsa yang religius, kita harus merenungkan kembali keagamaan kita. Apakah kita sebagai orang beragama telah menjadi begitu angkuh sehingga kelakuan dan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari tidak memiliki moralitas agama?

Mengapa sebagai orang beragama kita lebih bersifat egois teosentris, bukan humanis antroposentris? ®MDNM¯Keagamaan teosentris menempatkan usaha sebagai sesuatu yang sekunder semata. Sebab itu, seringkali seorang yang tampak saleh, rajin mengurusi tempat-tempat ibadah, tetapi pada saat yang sama tidak menaruh perhatian yang mendalam terhadap kesengsaraan yang diderita sesama umat manusia.

Inilah yang sebenarnya "simbol-simbol" egoisme religius, yang menyarankan Tuhan untuk menilai dirinya, tanpa perlu memperhatikan peran-peran sosial yang dilakukan. Akibat dominannya keagamaan yang egois teosentris seperti itu, sekalipun seseorang rajin mengunjungi tempat ibadah, membaca ajaran tentang perdamaian, ajaran saling menolong, dilarang berbuat curang, dilarang suka mencari-cari kesalahan orang lain, dilarang mencari-cari keuntungan dalam kesempitan, semuanya tidak berhubungan secara positif atas perilaku sehari-hari dalam bermasyarakat.

Agama sebagai everyday life, tidak terwujud sama sekali. Fenomena korupsi yang terjadi di kalangan birokrat negeri ini sangat jelas menempatkan keagamaan egois teosentris sebagai basisnya. Korupsi, menipu publik, menilep, dan menggandakan "pesangon" tidak dimaknai sebagai bentuk-bentuk perilaku bertentangan dengan ajaran tentang kesalehan. Beragama melulu dipahami sebagai bentuk kesalehan individual.

Sebab itu, setelah rajin mengunjungi rumah-rumah ibadah, rajin menjalankan ritual keagamaan, sudah merasa paling sempurna dalam beragama. Apalagi bila setiap malam telah mampu berdoa kepada Tuhan untuk memohon kebahagiaan atas dirinya, keluarganya, kesuksesan bisnisnya, kesuksesan studinya, maka merasa apa yang dilakukan siang hari aktivitasnya tidak harus berhubungan atas apa yang dikerjakan pada malam hari.

Malam berdoa dengan meneteskan air mata, memohon kepada Tuhan untuk diberkahi, namun siang hari di kantor, di jalan, di toko, di pasar berbuat curang, menipu, meneror orang dianggap hal biasa. Semua itu suatu yang dianggap lazim, karena hampir semua orang beragama melakukannya.

Kebutaan Kita

Sebut saja Slamet. Seorang tuna netra. Bertongkat. Dan seseorang, mungkin saudaranya, menuntun setiap langkahnya.

Saya hanya mengenalnya ketika berdialok dengan Sekretaris Pansus DPRD Lampung Malhani Manan, beberapa waktu lalu.

Saat itu, dia yang mewakili Pengurus Dewan Tuna Netra (DTN) Lampung, datang bersama sekelompok massa dari berbagai organisasi non-pemerintah (Ornop) dan wartawan. Begitu dia datang, suara tongkatnya berdentam. Tapi suara itu tidak menyita perhatian siapa pun. Orang-orang baru tahu kehadirannya dia saat bicara.

"Di Lampung ini, ada 700 orang kaum tuna netra. Tapi, cuma 200 yang dicatat pemerintah. Mereka tidak bisa melihat yang 500 lagi." Suara Slamet berat, dan masih tampak mau melanjutkan kalimatnya, "Yang 200 orang ini tidak pernah mendapat tempat sebagai warga negara."

Baam! Bak pukulan palu. Kalimat itu mengebuk. Gebukan dari kalimatnya yang lain jauh lebih keras. "Ketika pemerintah meluncurkan program Wajib Belajar 9 Tahun, penderita tuna netra di Lampung tidak punya apapun untuk dipelajari. Kami dibiarkan buta huruf seolah-olah tak butuh ilmu pengetahuan," kata Slamet.

Pukulan telak Slamet seharusnya tidak mengenai dada saya. Tapi saya ikut kesakitan. Terutama karena saat bicara, seluruh kebutaan yang dideritanya, sirna seketika. Sebab dia, ternyata, banyak melihat. Apa yang dia lihat jauh lebih banyak dari yang pernah saya lihat, sekalipun kedua belah mata saya normal.

Saya teringat Helen, seorang gadis 5 tahun, dalam sebuah film yang menguras air mata dan logika. Gadis berambut pirang yang terlahir sebagai orang cacat ini, dalam sebuah adegan film berjudul namanya itu, tampak belajar mengenali air bersama ibu gurunya yang tekun. "Seperti inilah air. Dingin, sejuk, dan... dengarlah suara kecipaknya!" Ibu gurunya mencoba menjelaskan.

Dan Helen, gadis yang tidak pernah meminta dilahirkan cacat itu, mencium, mencicipi, dan mendengarkan kecipak air. Setelah sekitar lima menit ia terdiam, ibu gurunya bertanya, "Sudah kau bayangkan air itu apa?"

Helen mengangguk, "Aku merasa begitu tenang, sejuk, dan nyaman."

"Itulah air," kata ibu gurunya. "Ketuduhan, ketenangan, dan kenyamanan."

Ah, Slamet. Orang-orang seperti dirinya, seperti Helen, dan seperti orang-orang tidak normal lainnya, sebetulnya orang-orang yang pantas berbahagia. Ketidaknormalan dalam diri mereka adalah cobaan-Nya, dan mereka bisa mengatasinya. Berbeda dengan mereka yang normal, yang ternyata berlaku tidak normal dalam banyak hal.

Maka sosok Slamet, di dalam gedung DPRD Lampung yang megah, bagi saya adalah sebuah garis putih di tengah-tengah bidang hitam.

Dari dunianya yang gelap, Slamet mampu melihat ke luar dari kegelapan itu. Sementara saya, para anggota Dewan, dan para aktivis Ornop lainnya, hanya mampu melihat apa yang ada dalam dunia yang terang. Di luar dunia itu, misalnya dunia gelap yang dihuni Slamet dan kawan-kawannya, mata kami telah buta.

Lampung Post edisi 10 Juni 2002

Huh

Jika seseorang muak, lelah, kesal, gerah, geram, marah, dan tak bisa melampiaskan semuanya, hanya satu kata yang acap meluncur dari mulutnya: huh! Itu sebabnya, dalam olah nafas, kata "huh" teramat sering diucapkan, karena berfungsi menetralisir degup jantung.

Saat seseorang mengatakan "huh", secara bersamaan karbon monoksida lepas dari paru-parunya. Saat itu, oksigen masuk dalam volume yang relatif lebih besar, sehingga darah lebih lancar memompa ke seluruh urat nadi.

Alasan itu juga, kenapa dalam latihan teater seseorang membutuhkan banyak waktu untuk mengajari cara mengatakan "huh". Sebab itu, katakanlah "huh", maka Anda akan merasa segar.

Saat ini, di tengah-tengah kehidupan masyarakat Lampung, yang sudah membuat siapa saja muak, lelah, kesal, geram, marah, tapi tidak bisa melampiaskannya, setiap orang harus belajar mengatakan "huh".

Lihatlah para elite di DPRD Lampung, setiap kali hendak membahas anggaran pendapatan dan belanja daerah, selalu saja mereka ribut bukan soal apa yang akan dibahas itu. Tapi soal konflik yang sebetulnya bisa dibuat pendek, tetapi lebih asyik dibuat panjang. Sama persis seperti pepatah yang khas dalam birokrasi, "kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah".

Mari kita katakan "huh" kepada para anggota Dewan itu. Kita katakan juga "huh" bagi elite di eksekutif. Entah kenapa mereka tidak berusaha menjalankan birokrasi pemerintahan daerah untuk mengurusi kepentingan rakyatnya. Seluruh energi diarahkan dan dihabiskan untuk memikirkan, cara "melawan" aksi para anggota legislatif.

Seluruh perhatian dan keseriusan tersedot ke sana, ke konflik yang mengada-ada itu. Sehingga cara mereka menyelesaikan dan meredakan persoalan yang dihadapi rakyat di Kecamatan Kemiling, cuma dengan sepenggal kalimat: "Jangan terpengaruh isu-isu negatif."

Bukankan kekhawatiran rakyat di Kecamatan Kemiling, yang tinggal dalam tenda hampir sepekan lamanya, tidak ada kaitannya dengan politik? Bukankah mereka hanya memikirkan satu hal: tak ingin jadi korban jika bencana gempa betul-betul terjadi.

Kewaspadaan sangat penting dalam hidup. Bukankah dunia sudah tidak aman bagi penghuninya, karena apa saja bisa menjadi penyebab kematian sia-sia. Bukankah elite bisa menjadi sumber bencana yang lebih dasyat dari akibat gempa?

Katakanlah "huh" kepada Gubernur Lampung yang mengatakan bahwa "bumi yang berguncang di Kecamatan Kemiling merupakan isu yang menyesatkan". Tak ada manusia yang bisa memprediksi gempa bumi secara pasti, sekalipun dengan alat canggih. Karena gempa bumi milik-Nya, Tuhan yang tahu persis dengan rencananya. Tapi alam mengajarkan, ada fenomena-fenomena yang bisa ditafsirkan. Kita hanya punya tafsir itu. Itulah yang dilakukan orang-orang di Kemiling. Sebuah tafsir yang berwarna-warni atas fenomena alam.

Siapa tahu gempa yang terus-menerus menggoyang Provinsi Lampung, sebuah cara mengingatkan agar kita lupakan konflik yang tidak perlu. Kita harus merefleksikan, bahwa Tuhan masih menyayangi orang-orang di Kemiling. Sebab itu, katakanlah "huh" kepada elite yang tidak bisa menenangkan hati mereka. Elite yang cuma punya tafsir "hitam" dan "putih".