: Amir Sjarifoeddin Harahap
Alamatmu yang ada padaku adalah makam
di Yogjakarta.
Berbeda dari makam lainnya;
tanpa karangan bunga, tanpa bau bunga yang ditabur
para peziarah.
Semak mimosa yang merambat itu bercerita,
betapa leluasa ia tumbuh
dan merambat pada nisan. Bersama belukar semak
berlomba-lomba menutupi makam agar tak bisa dikenali
para peziarah.
Ah, Amir, kawanku,
aku mengunjungimu
di Yogjakarta
setelah membaca buku-buku sejarah
dan tak menemukan namamu di sana
--segala tentangmu disebut haram
bagi ingatan
bersama--
Aku menyanyikan himne dalam hatiku
lagu yang selalu
dinyanyikan
ketika mengenang Soekarno, Hatta,
Sjahrir, dan kawan-kawanmu yang lain
kawan semeja bicara
Nusantara


Terima kasih atas pesan Anda