FRAGMEN

Sinar Tabagsel
By - Budi Hatees
0


(1)

        Aku empat puluh ketika pintu rumah kubuka,
    menutupkan daun pintu itu, dan pergi. Aku 
     tidak pernah menoleh, bertahun-tahun lamanya. 

Sejak itu aku tak pernah tahu apakah warna cat 
    pintu itu masih coklat tua atau telah berganti rupa.
               Pintu hanya sesuatu untuk kita lewat
      
Tapi itulah rumahku, tempat tinggali sejak 1996,
    di Lampung. Ia sangat berarti sebagai panggung 
                   sandiwara. Di sana aku terbenam

bertahun-tahun sebagai aktor buruk 
    yang tak mampu memainkan lakon sebagai suami. 
         Perempuanku, aktris terbaik yang selalu sedih


(2)
 
Tahun 2009, Agustus yang kering, aktris terbaik itu
                                melihat aku berjalan ke pintu 
dan tak pernah lagi masuk. Ia tak meminta 
        agar aku jangan pernah keluar rumah

      Ia menduga tak akan pernah aku lebih jauh
dari halaman rumah.Tapi hari itu aku pergi jauh, 
lebih jauh  dari halaman, dan lebih jauh lagi 
         hingga rumah tak pernah terlihat lagi. 

Langkahku bergerak, terus bergerak, dan ketika aku berhenti 
telah tiba di kota lain; aku jadi pengelana yang tak pernah sepi. 
Di mana tanah aku tapaki di sana semua manusia aku akrabi.



 

Tags:

Post a Comment

0 Comments

Terima kasih atas pesan Anda

Post a Comment (0)
3/related/default