melahap apa saja dengan mulutnya
yang tak berahang, tak bergeligi.
Hanya lidah, jutaan lidah menjulur
ke benda-benda. Dan seperti tongkat sihir
mengubah segala jadi kepulan asap
di angkasa, di mana bulan menghilang
malam itu. Bintang-bintang leleh bersama
kaca-kaca jendela rumah dan semua
yang berdiri itu, rubuh ke dalam hitamnya
kekelaman. Sekelam kolam kesedihan
yang menenggelamkan para pengungsi
di antara tumpukan barang-barang pribadi
di pinggir kota. Benda-benda kesayang itu
telah terbakar, tak lagi berfungsi. Tapi,
itu harapan yang bisa diselamatkan
dari api. Dan aku menemukanmu,
mengapung-apung di atas kolam
putus asa, memeluk boneka panda
yang hangus kakinya. Menatap kosong
pada tumpukan arang bekas kusen pintu,
seakan-akan api masih menyala di sana
dan mengancammu. Dengan nyalanya,
yang lebih tajam dari segala pisau,
dan kau menjerit. Seperti orang-orang
tanpa suara, air mata bergulir
menggantung di dagu. Dan matamu,
merah menyimpan sisa asap semalam.
Sipirok, x – 2023


Terima kasih atas pesan Anda