Sticky Grid(3)
LATEST POSTS
Kampung yang Damai
LADA
DI GUNUNG SIBUALBUALI
Di lereng Sibualbuali, aku adalah tenda
Sewarna rumput-rumput di tanah
Kusembunyikan laki-laki itu di tubuhku
.
Angin yang membawa lembing
Ketajaman mata lembing tak menembus
Kehangatan parasut dan mantel tebal
di tubuhnya. Hujan menurunkan jeruji
Mengurung laki-laki itu bersama keinginan
Menyusuri kanopi hutan hujan tropika sumatera
Hutan adalah tahta bagi flora dan fauna
.
Nyanyian katak dari sungai kecil di sampingku
Air jernih menampakkan lumut pada batu
Ritme tetes air jatuh dari daun-daun
Harmoni ansambel melodi dari konser alami
.
Laki-laki terkantuk-kantuk bersama buku puisi
Dan hujan tiba-tiba berhenti, langit
terbuka dan matahari menyala. Matahari
di mana-mana sebagai cahaya berpijar-pijar
dari butir-butir air di daun-daun,
di rumput-rumput, di permukaan sungai kecil
ketika laki-laki itu keluar dari tubuhku.
.
Berdiri di atas rumput, menyimak harmoni
melodi dan mulai berputar-putar
dalam tarian. Aku dengan seruling
selendang biru, seperti tangan yang lembut
menyentuh jiwaku.
.
*) Gunung Sibualbuali, nama gunung di Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang merupakan kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali.
HALIHI
Angkasa aku jelajahi
tak lagi ada yang lebih tinggi
sedang awan aku pecahkan
sayap-sayap aku kepakkan
merobek langit. Hujan tumpah
dari sobekan itu, mengguyur
tanah gersang yang merekah
oleh kemarau. Tanah-tanah subur
dengan palawija dan sayur mayur,
para petani di sawah menandur
padi, bersiul tentang musim panen
semoga harga tinggi
aku yang lebih tinggi
dari apa pun. lebih tinggi
Halihi sejenis burung elang, merupakan burung perkasa yang jadi simbol kebebasan bagi masyarakat adat Angkola.
Budi Hatees, “Halihi,” dari buku Perjalanan Pulang yang Tak Pernah Sampai di Rumah: 100 Puisi Pilihan (Penerbit Pustaha: Edisi Terbatas, 2025). Copyright © 2025 by Budi Hatees. Disiarkan ulang atas persetujuan Penerbit Pustaha.
LELO
Di kota kami, tak seorang pun boleh
letuskan senjata jika tak ada horja
Bunyi mesiu yang ledak adalah tanda
yang ditunggu raja-raja untuk marhata.
Di gelanggang, atau manortor
untuk eratkan tali yang mengikat saudara
dalihan na tolu. Di bonabulu, tak ada
yang asah parang untuk saling melukai
Segala tikai selesai, segala wasangka
tak guna. Semua saling percaya
Lelo secara harfiah adalah bedil, tapi tidak untuk senjata perang. Benda ini hanya diledakkan saat ada pesta adat. Mesiu dibuat sendiri dari bahan baku arang andulpak (sejenis kayu lokal), ditambah air kencing, dan ini menjadi pengetahuan lokal masyarakat adat Angkola.
SIPIROK, 1988
melahap apa saja dengan mulutnya
yang tak berahang, tak bergeligi.
Hanya lidah, jutaan lidah menjulur
ke benda-benda. Dan seperti tongkat sihir
mengubah segala jadi kepulan asap
di angkasa, di mana bulan menghilang
malam itu. Bintang-bintang leleh bersama
kaca-kaca jendela rumah dan semua
yang berdiri itu, rubuh ke dalam hitamnya
kekelaman. Sekelam kolam kesedihan
yang menenggelamkan para pengungsi
di antara tumpukan barang-barang pribadi
di pinggir kota. Benda-benda kesayang itu
telah terbakar, tak lagi berfungsi. Tapi,
itu harapan yang bisa diselamatkan
mengapung-apung di atas kolam
putus asa, memeluk boneka panda
yang hangus kakinya. Menatap kosong
pada tumpukan arang bekas kusen pintu,
seakan-akan api masih menyala di sana
dan mengancammu. Dengan nyalanya,
yang lebih tajam dari segala pisau,
dan kau menjerit. Seperti orang-orang
tanpa suara, air mata bergulir
menggantung di dagu. Dan matamu,
merah menyimpan sisa asap semalam.
Sipirok, x – 2023
PAKKAT
Bila parangmu tak pernah menebas pucuknya,
ia akan sempurna sebagai calamoidea.
Berzirah duri seluruh tubuhnya, bersurai cambuk,
ia taklukkan hutan hujan tropika sumatra
dan berkuasa sebagai liana
Kaki-kakinya adalah akar-akar menancap
di tanah, lengannya panjang memiting
batang-batang pepohonan yang menjulang,
dan ia kibarkan panji
di puncak tertinggi.
Ia masih belia sebagai pucuk saat kau
tebas
dan terputus dari silsilah lama. Di atas
meja makan,
kau beri silsilah baru kepadanya sebagai
hidangan
bagi para raja.
Pakkat (bahasa Batak berbudaya Angkola) berarti pucuk rotan, salah satu kuliner tradisional.
MIGRASI
Melintasi rute sepi, melewati jalur hutan
yang dihuni begu dan jalan melingkar
dengan jurang menganga di mana kematian
bertahta. Dan segalanya tampak samar,
tapi kami akhirnya sampai di dangsina
Meninggalkan purba, tanah lama berawa-rawa
dengan gunung batu dan danau bermagma.
Danau yang menyimpan Naga Padoha
mimpi buruk kami yang dititipkan Mulajadi
sebagai ancaman. Roh yang jadi bayang-bayang
hukuman menyakitkan adalah misteri
hidup antara menjejak di tanah dan melayang
di udara. Dan kami menemukan ini negeri,
di lembah Sibualbuali, di mana sungai mengalir
datang dari hutan, angin adalah melankoli,
di dalam diri kejayaan berdesir mendesir.
Humbanghasundutan, x- 2023
Purba (bahasa Batak) artinya Utara dan Dangsina artinya “Selatan”. Ini mitologi migrasi orang Toba di Utara ke Selatan dan menemukan peraban manusia serta belajar dari masyarakat yang ditemuinya.
NAGA PADOHA
: thompson hs
Di Samosir, dari bangku sebuah bungalow, pikiranku
menyelam ke kedalaman danau yang biru itu,
dan terpukau pada gadis yang menjelma seekor ikan
dalam dongengan. Entah, dia masih punya kejayaan,
setelah kutuk yang disambut gelegar petir di langit,
hujan yang tak henti-henti, dan lembah-lembah
telah digenangi. Adakah dia telah kembali bangkit
sebagai ikan atau menjelma Naga Padoha
dikirim Mulajadi Nabolon. Dan dengan ekornya,
dia guncang tanah jadi longsor, nafasnya merubuhkan
rumah-rumah sepanjang danau itu, dan puing-puingnya
menimbun orang-orang di banua toru. Di Samosir,
aku rafal mantra pemanggil Deak Parujar, tapi
yang datang padaku angin di bungalow itu berdesir.
Samosir, x – 2023
Naga Padoha: Masyarakat di Pulau Samosir menyakini ada mahluk mitologi bernama Naga Padoha yang bertugas menjaga Danau Toba. Mahluk mitologi ini sedang marah ketika sejumlah tempat di Danau Toba dilanda banjir bandang.
DI RANJANG RUMAH SAKIT
Di dalam sakit, aku berjalan
tapi tubuhku tak bergerak
di atas ranjang:
antara sadar dan jaga
seperti lampu minyak
hendak padam.
Langkah kakiku menyusuri jalan
yang ujungnya begitu jauh.
Langit muram jelang malam,
tak ada suara-suara
dari yang kucintai
sepanjang usiaku.
Aku harapkan
suara langkah anak-anak
berlari ke pagar rumah
dan menungguku pulang,
atau nyanyian istriku
saat meninakbobokkan
pada malam hari.
Aku rasakan sepi
di dalam jantungku
menyebar
ke seluruh tubuhku
seperti darah
dipompakan.
Aku hanya mendengar satu suara:
bunyi mesin kardiografi: bip bip bip
dan itu suara jantungku
yang lemah,
sangat lemah.
Aku ingat ucapan dokter
tentang hariku
segera selesai
dan mereka, keluargaku,
harus berdamai
tapi aku tak ketakutan
membayangkan pergi
ke suatu tempat
dan tidak seorang pun
yang aku kenali
di tempat itu.
Hanya Tuhan mahatahu
aku dekat dengannya
di dalam nafasku
ia adalah nafasku
dan ia menemaniku
di dalam sakit,
saat aku berjalan
dan aku tahu tubuhku
tidak bergerak
di ranjang.
Popular Posts
-
Setiap kabupaten/kota di Provinsi Lampung memiliki hikayat masing-masing yang tak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Wajar bila pemerin...
-
Sejak dekade 1980-an, Kelurahan Hutasuhut di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara—sekitar 12 jam perjalanan dar...
-
Korupsi sudah menggurita dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Kondisi ini berlangsung sejak lama, bahkan mengalami peningkatan kualitas k...
-
Gadis itu berpenampilan sangat menarik. Di lingkungan SMA dimana ia menjadi siswa, tidak sulit baginya untuk menjadi seorang primadona. Tanp...
-
Ketika Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo menugaskan AKBP Krishna Murti, S.Ik., M.Si menjadi Kapolres Pekalongan pada April 2011 lalu, bany...









