Break News

Sticky Grid(3)

Cerpen

Puisi

alt gambar

Esai

Opini

Jurnalisme

LATEST POSTS

Kampung yang Damai

item-thumbnail

Di sebuah sungai kecil yang airnya keruh, laki-laki itu tergeletak sebagai mayat. Tubuhnya telungkup. Sebagian tubuh itu, dari kepala sampai pinggang,  terendam di dalam air yang mengalir perlahan.  Sebagian lainnya ada di darat, di atas rumput, tumpukan daun-daun, dan pasir berlumpur berwarna coklat. 

Sudah beberapa lama mayat itu ada di sana. Lumut mencoba tumbuh di kulitnya. Seekor ikan lele menggigit kupingnya. Dua ekor biawak berebut merobek kaos warna hijau yang dipakainya, sebelum akhirnya merobek kulitnya. Dalam hitungan hari, atau pekan, tubuhnya akan membengkak, karena asam di lambungnya akan berproses menjadi gas dan panas matahari mematangkan gas itu. Sangat mungkin, ia akan meledak, membuat isi tubuhnya berhamburan ke mana-mana.  

Tubuh mayat itu mengeluarkan bau daging busuk. Lalat-lalat hijau berdengung-dengung di tempat itu mencari bagian daging yang terbuka untuk menyimpan telur-telurnya. Seekor ikan lele berenang ke arah jarinya, menggigit ujung jari telunjuknya. Ikan lele yang lain menggigit hidungnya, matanya, kupingnya…. Seekor katak meloncat ke punggungnya, lalu meloncat lagi ke dalam genangan air, meninggalkan riak di permukaan air. Rumput-rumput air tumbuh dekat tangannya. 

Mayat itu sudah menjadi bagian dari lansekap air ketika Sarido, seseorang yang suka memasang bubu di sungai kecil yang ada di perkampungan yang dikelilingi hutan para itu, menemukan dua potong jari di dalam bubunya dan ia muntah-muntah. 

Sarido pucat dan lemas. Tubuhnya meriang ketika polisi mendatangi ke rumahnya untuk menanyakan bagaimana ia bisa menemukan dua potong jari itu. Polisi mengaku sudah meninjau ke lokasi, menyusuri ke hulu sungai,  dan, polisi telah menemukan mayat seorang laki-laki, sekitar lima puluhan tahun, sebagain tubuhnya telah tercerai-berai. Berkat kerja keras dan pengalaman dalam melakukan pekerjaan penyidikan dan penyelidikan, dibantu pula oleh petugas medik yang melakukan autopsi atas tubuh yang sudah rusak itu, polisi langsung bisa mengidentifikasi, bahwa laki-laki itu adalah Rabiul Awal. 

Polisi telah menghubungi istrinya, Halimahtussadiyah, di Medan. Perempuan itu meraung, tak percaya akan mendengar kabar buruk itu tentang suaminya. 

“Suami saya memang sedang pulang ke kampung,” kata Halimatussadiyah. “Aku sudah melarangnya agar jangan pergi sendirian, tapi suami saya memang keras kepala.”

Rabiul Awal, mayat yang baru ditemukan dan penemuan itu menggemparkan seluruh penduduk di kota kecamatan itu, belum lama datang ke kampung yang dikelilingi kebun para tersebut. Beberapa orang di kampung itu masih mengenalinya sebagai anak tunggal Mangaraja Tondi, dan sulit melupakan peristiwa yang memaksanya meninggalkan kampung. 

Ketika usia Rabiul Awal  22 tahun, ia masih muda dan berdarah panas, ia terlibat perkelahian dengan Sultoni, anak seorang polisi. Sultoni terkena tusukan, bukan Rabiul Awal yang melakukannya, tapi polisi percaya kalau Rabiul Awal adalah pelakunya.  Banyak saksi yang melihat Rabiul Awal membawa-bawa belati sebelum Sultoni ditemukan terkapar dengan perut yang sudah berlubang.

Lantaran tak ingin nama baik Mangaraja Tondi jadi cemar, diam-diam Rabiul Awal meninggalkan kampung. Sejak itu tidak pernah sekali pun ia pulang. Tidak ada yang tahu bagaimana kabarnya dan di mana keberadaannya. 

Ketika ibunya meninggal, itu terjadi hampir setahun setelah ia menghilang, ia tidak pulang. Saat ayahnya meninggal, itu terjadi tiga bulan lalu, ia pun tak datang. 

Halimatussadiyah bercerita kepada polisi, bahwa ia dan suaminya tinggal di Medan. Suaminya bekerja sebagai pegawai di sebuah pabrik pengolahan karet, dan dalam waktu beberapa bulan ke depan, suaminya berencana akan pensiun dini.  

“Ia ingin menghabiskan masa tua di kampung sambil mengurus harta warisan almarhum ayahnya. Ia berangkat lebih dahulu, dan ia akan memanggil aku jika semua sudah ia siapkan. Aku melarangnya pergi, tapi....” Halimatussaddiyah terisak-isak.

Suatu hari, Marwan tidak percaya ketika ibunya, Siti Zahara, memperkenalkan seorang laki-laki bernama Rabiul Awal yang baru datang dari Medan sebagai saudar tirinya. Marwan tak senang atas kehadiran Rabiul Awal, tetapi tak ia tunjukkan rasa ketidaksenangannya. 

Dulu, ia sering mendengar nama Rabiul Awal disebut sebagai anak tunggal dari Mangaraja Tondi, laki-laki tua yang menikahi ibunya. 

Laki-laki tua yang sudah lama ditinggal mati oleh istrinya itu memilih menikahi ibunya, dan Marwan tidak setuju. Tiga adiknya, Bahrum, Zulfan, dan Maisyaroh – ketiganya, waktu itu, masih kuliah – sepakat dengan dirinya, menolak rencana pernikahan itu. 

Mereka beralasan, ibunya sudah tua, tak seharusnya menghabiskan masa tuanya mengurusi laki-laki tua itu. Meskipun begitu, mereka tetap menyerahkan segala keputusan kepada Siti Zahara, karena ibu mereka yang akan menjalaninya.

Marwan akhirnya berubah pikiran setelah mengetahui kalau Mangaraja Tondi memiliki kebun para yang luas, beberapa petak sawah, dan dua buah rumah. Setelah pernikahan itu, Mangaraja Tondi memberi izin kepada Marwan bersama istri dan dua orang anaknya, untuk menempati salah satu rumah itu. Rumah yang lain disewakan, dan uang sewanya dikelola Siti Zahara beserta uang dari hasil kebun para dan petak-petak sawah yang dimiliki. 

Ketika Rabiul Awal muncul, ia bicara kepada Siti Zahara perihal keinginannya untuk pulang dan tinggal di kampung yang dikelilingi hutan para.  Ia tidak akan tinggal di rumah lama, rumah di mana ia lahir, karena ia tidak ingin mengganggu kehidupan Siti Zahara. Ia meminta kebun para karena akan membangun rumah di sana, dan hidup sebagai petani bersama Halimatussadiyah. 

Rabiul Awal tak banyak bicara. Ia hanya menyampaikan apa yang penting baginya. Setelah itu ia berpamitan pergi ke kebun para. Siti Zahara pun tak banyak bicara. Sebetulnya ia kaget dengan kemunculan Rabiul Awal. Ia memang sering membayangkan Rabiul Awal akan datang suatu hari, tetapi ia tidak punya persiapan apapun ketika Rabiul Awal benar-benar datang. 

Setelah Rabiul Awal meninggalkan rumah dan pergi ke kebun para, Siti Zahara berkata kepada Marwan: “Inilah yang ibu khawatirkan selama ini.”

Pada suatu sore, sebuah bus berhenti di perkampungan yang dikelilingi hutan para. Halimatussaddiyah keluar dari perut bus itu. Tubuhnya kurus, tinggi, dan tampak kecapaian. Ia disambut Brigadir Marjuki, polisi yang menangani penemuan mayat Rabiul Awal.  

“Kami telah memakamkannya,” kata Marzuki, “saya akan menunjukkan kuburan almarhum kepada ibu.”

Halimatussaddiyah hanya menganguk, mengikuti ke mana pun Marzuki membawanya, memboncenginya dengan sepeda motor. Sepanjang perjalanan, Halimatussaddiyah bertanya bagaimana suaminya bisa menemukan ajal. 

“Kami menduga ia terjerembab karena tidak mengenal medan di hutan para. Mungkin ia mendapat serangan penyakit yang membuatnya langsung pingsan dan wajahnya ada di dalam air,” kata Marzuki.

“Tidak ada bekas kekerasan di tubuhnya?” Halimatussadiyah menyelidiki. “Bang Rabiul Awal tidak punya riwayat penyakit apapun.”

“Kami menemukan retakan pada tengkorak kepalanya di bagian dahi, tapi petugas medis menduga retakan itu akibat ia terembab dan menghantam benda keras.”

“Menghantam atau dia malah dihantam benda keras?” Halimatussadiyah mengejar. 

Tiba-tiba Brigadir Marzuki menghentikan sepeda motor. Ia bicara dengan suara yang keras: “Ibu mencurigai kalau Rabiul Awal dibunuh di kampung ini?”

Halimatussaddiyah kaget mendengar nada bicara Brigadir Marzuki yang menyolot, ia hendak membalas, tetapi Brigadir Marzuki melanjutkan kemarahannya: “Sebagai polisi yang bertugas di daerah ini, saya tersinggung dengan pernyataan Ibu soal pembunuhan Rabiul Awal. Di kampung ini, semua orang bersaudara, mereka memiliki ikatan persaudaraan marga yang membuat setiap orang saling bertautan darah. Tidak pernah ada kejahatan di kampung ini, apalagi kejahatan pembunuhan,” katanya.

“Kenapa kau marah!?”

“Ibu telah menyinggung aku.”

“Bagaimana kalau ternyata Bang Rabiul Awal dibunuh.”

“Itu tak mungkin.” Marzuki bersikeras. “Ibu belum tahu tentang perkampungan ini. Semua orang menghormati Rabiul Awal sebagai anak tunggal dari Mangaraja Tondi. Mangaraja Tondi itu ahli waris dari para pembuka perkampungan ini. Secara adat, semua anggota keluarga para pembuka kampung akan dihormati, termasuk Rabiul Awal yang  sudah lama menghilang.”

“Aku tidak tahu soal itu. Bang Rabiul tidak pernah bercerita tentang masa lalunya.”

“Sekarang Ibu sudah tahu. Ibu seharusnya memahami betapa kami juga sangat menyesal atas kematian Rabiul Awal. Kami baru tahu kalau Rabiul Awal telah pulang setelah sekian puluh tahun menghilang. Kami tak percaya awalnya bahwa ia adalah Rabiul Awal yang kami kenal dulu.”

“Baik…baik…. Aku minta maaf kalau ucapanku menyinggung….”

“Ibu benar-benar menyinggung.”

“Aku tidak tahu. Aku minta maaf.”

Brigadir Marzuki mengangguk, menyalakan mesin sepeda motor. “Selama Ibu berada di kampung ini, aku akan menemani ibu sebagai rasa hormatku kepada almarhum.”

“Aku tak menyangka kalau suamiku begitu dihormati di kampung ini.”

Sepeda motor tiba di pemakaman umum. Brigadir Marzuki membawa Halimatussaddiyah ke kompleks pemakaman yang dikhususkan bagi keluarga keturunan pembuka perkampungan. Kompleks itu diberi pagar besi, dirawat bersih, dan tiap makamnya diberi keramik. 

Halimatussaddiyah memandangi makam Rabiul Awal di samping makam kedua orang tuanya. 

“Tanah kosong di samping kuburan Rabiul Awal disiapkan untuk istrinya,” kata Brigadir Marzuki.

Halimatussaddiyah kaget. “Untukku?”

Brigadir Marzuki mengangguk. “Begitulah tradisi kami di kampung ini. Kami ingin semua anggota keluarga pembuka perkampungan selalu mendapat tempat terhormat, saat masih hidup maupun setelah meninggal.”

Halimatussaddiyah menatap tanah kosong di samping kuburan suaminya. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Ia mengajak Brigadir Marzuki meninggalkan kompleks.

Di tempat lain, hampir di waktu bersamaan, Marwan mendatangi Sultoni ke rumahnya. Laki-laki berusia lima puluhan tahun yang duduk di kursi roda itu, bercerita kepada Marwan bahwa ia baru saja menyuruh anaknya, Brigadir Marzuki, untuk menjemput Halimatussaddiyah yang baru datang dari Medan. 

“Mereka akan ke kuburan Rabiul Awal, lalu pergi ke hutan para untuk melihat rumah yang dibangun Rabiul Awal,” kata Sultoni, lalu ia bercerita bahwa ia masih menyimpan dendam masa lalu kepada Rabiul Awal. “Akibat penusukan itu, aku gagal masuk polisi. Untung anakku bisa mengikuti jejak ompungnya.”

“Sekarang dendamnya sudah terbayarkan,” kata Marwan. 

Sultoni terdiam, lalu menatap Marwan. “Aku hanya perlu mendengar kabar dari Marzuki. Kalau sudah selesai dengan Halimatussaddiyah, barulah aku senang.”

“Marzuki pasti bisa menjalankan tugasnya. Tidak sulit menyingkirkan seorang perempuan. Aku lihat sendiri bagaimana Marzuki menyingkirkan Rabiul Awal. Semua dilakukannya dengan sangat mudah.”

Sultoni tersenyum. Ia membayangkan banyak hal. 

Berbeda dengan Sarido, ia merasa dirinya telah dikutuk untuk selalu melihat mayat. Ketika ia menjenguk bubu yang dipasangnya di sungai, tanpa sengaja ia melihat Brigadir Marzuki melemparkan sesuatu ke sungai itu. Ketika ia periksa ke tempat pembuangan itu, ia melihat mayat seorang perempuan, dan pemandangan itu membuatnya menjerit. 

Ia berlari ke kampung sambil berteriak: “Ada mayat!”

Budi Hatees, “Kampung yang Damai,” disiarkan pertama kali di Waspada tahun 2026, dan disiarkan kembali dalam manuskrip buku Orang-Orang Tapanuli (Penerbit Pustaha, 2025). Copyright © 2026 by Budi Hatees. Disiarkan ulang atas persetujuan Penerbit Pustaha.
Artikel Baru

LADA

item-thumbnail


1

Serupa sirih bebatangnya merambat lirih 
            di pokok-pokok trembesi  
Bersulih hari,  musim berganti,  
bunga-bunga di bebatang itu bersemi
        di balik daun-daun sembunyi. 

Waktu merawatnya dari amuk serangga,
        sayap-sayap angin memaksa serbuknya
gugur di putik bunga-bunga. Pertemuan keduanya
            menguntai bulir manik-manik permata
hijau,  bersulih warna memerah rupa, 
    menguntai indah seperti kalung batu permata

Merah itu meledak jadi rasa  
            pedas, membakar, mengalir ke jiwa
sebagai kehangatan. Sejak itu segalanya menyala
    nikmat ikan baung bertahan di  pangkal lidah
dan orang-orang suka cita 

2

Berabad-abad lalu perahu layar entah dari mana
          merapat di pantai. Orang-orang turun menanyakan lada
sambil menancapkan kuku-kukunya
                dan mencakarkan kekuasaannya.

Sejak itu sesuatu pecah dari lada, 
            bukan lagi pedas bikin gairah
tapi getah kental yang meninggalkan luka 
di dalam jiwa

Dan para punyimbang  hanya sepakat, 
--mereka yang kami daulat
sebagai junjungan, tunduk sebagai laknat 
yang khianat


Artikel Baru

DI GUNUNG SIBUALBUALI

item-thumbnail


Di lereng Sibualbuali, aku adalah tenda

Sewarna rumput-rumput di tanah

Kusembunyikan laki-laki itu di tubuhku

.

Angin yang membawa lembing

Ketajaman mata lembing tak menembus

Kehangatan parasut dan mantel tebal

di tubuhnya. Hujan menurunkan jeruji

Mengurung laki-laki itu bersama keinginan

Menyusuri kanopi hutan hujan tropika sumatera

Hutan adalah tahta bagi flora dan fauna

.

Nyanyian katak dari sungai kecil di sampingku

Air jernih menampakkan lumut pada batu

Ritme tetes air jatuh dari daun-daun

Harmoni ansambel melodi dari konser alami

.

Laki-laki terkantuk-kantuk bersama buku puisi

Dan hujan tiba-tiba berhenti, langit

terbuka dan matahari menyala. Matahari

di mana-mana sebagai cahaya berpijar-pijar

dari butir-butir air di daun-daun,

di rumput-rumput, di permukaan sungai kecil

ketika laki-laki itu keluar dari tubuhku.

.

Berdiri di atas rumput, menyimak harmoni

melodi dan mulai berputar-putar

dalam tarian. Aku dengan seruling

selendang biru, seperti tangan yang lembut

menyentuh jiwaku.

.

*) Gunung Sibualbuali, nama gunung di Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yang merupakan kawasan Cagar Alam Dolok Sibualbuali.

Budi Hatees, “Di Gunung Sibualbuali,” dari buku Perjalanan Pulang yang Tak Pernah Sampai di Rumah: 100 Puisi Pilihan (Penerbit Pustaha: Edisi Terbatas, 2025). Copyright © 2025 by Budi Hatees. Disiarkan ulang atas persetujuan Penerbit Pustaha.
Artikel Baru

HALIHI

item-thumbnail

Angkasa aku jelajahi

tak lagi ada yang lebih tinggi
sedang awan aku pecahkan
sayap-sayap aku kepakkan

merobek langit. Hujan tumpah
dari sobekan itu, mengguyur
tanah gersang yang merekah
oleh kemarau. Tanah-tanah subur

dengan palawija dan sayur mayur,
para petani di sawah menandur
padi, bersiul tentang musim panen

semoga harga tinggi
aku yang lebih tinggi
dari apa pun. lebih tinggi


Halihi sejenis burung elang, merupakan burung perkasa yang jadi simbol kebebasan bagi masyarakat adat Angkola.

Budi Hatees, “Halihi,” dari buku Perjalanan Pulang yang Tak Pernah Sampai di Rumah: 100 Puisi Pilihan (Penerbit Pustaha: Edisi Terbatas, 2025). Copyright © 2025 by Budi Hatees. Disiarkan ulang atas persetujuan Penerbit Pustaha.

Artikel Baru

LELO

item-thumbnail



Di kota kami, tak seorang pun boleh

letuskan senjata jika tak ada horja
Bunyi mesiu yang ledak adalah tanda
yang ditunggu raja-raja untuk marhata.
Di gelanggang, atau manortor
untuk eratkan tali yang mengikat saudara
dalihan na tolu. Di bonabulu, tak ada
yang asah parang untuk saling melukai
Segala tikai selesai, segala wasangka
tak guna. Semua saling percaya

Lelo secara harfiah adalah bedil, tapi tidak untuk senjata perang. Benda ini hanya diledakkan saat ada pesta adat. Mesiu dibuat sendiri dari bahan baku arang andulpak (sejenis kayu lokal), ditambah air kencing, dan ini menjadi pengetahuan lokal masyarakat adat Angkola.

Artikel Baru

SIPIROK, 1988

item-thumbnail


Tak pernah aku tahu sedasyat itu api
    melahap apa saja dengan mulutnya
yang tak berahang, tak bergeligi.
Hanya lidah, jutaan lidah menjulur
    ke benda-benda. Dan seperti tongkat sihir
mengubah segala jadi kepulan asap
di angkasa, di mana bulan menghilang
    malam itu. Bintang-bintang leleh bersama
kaca-kaca jendela rumah dan semua
yang berdiri itu, rubuh ke dalam hitamnya
    kekelaman. Sekelam kolam kesedihan
yang menenggelamkan para pengungsi
di antara tumpukan barang-barang pribadi
    di pinggir kota. Benda-benda kesayang itu
telah terbakar, tak lagi berfungsi. Tapi,
itu harapan yang bisa diselamatkan 
    dari api. Dan aku menemukanmu,

mengapung-apung di atas kolam
putus asa, memeluk boneka panda
    yang hangus kakinya. Menatap kosong
pada tumpukan arang bekas kusen pintu,
seakan-akan api masih menyala di sana
    dan mengancammu. Dengan nyalanya,
yang lebih tajam dari segala pisau,
    dan kau menjerit. Seperti orang-orang
tanpa suara, air mata bergulir
menggantung di dagu. Dan matamu,
merah menyimpan sisa asap semalam.

Sipirok, x – 2023


Artikel Baru

PAKKAT

item-thumbnail



Bila parangmu tak pernah menebas pucuknya,

ia akan sempurna sebagai calamoidea.

 

Berzirah duri seluruh tubuhnya, bersurai cambuk,

ia taklukkan hutan hujan tropika sumatra

dan berkuasa sebagai liana

 

Kaki-kakinya adalah akar-akar menancap

di tanah, lengannya panjang memiting

batang-batang pepohonan yang menjulang,

dan ia kibarkan panji

di puncak tertinggi.

 

Ia masih belia sebagai pucuk saat kau tebas

dan terputus dari silsilah lama. Di atas meja makan,  

kau beri silsilah baru  kepadanya sebagai hidangan

bagi para raja.

 

 

Pakkat (bahasa Batak berbudaya Angkola) berarti pucuk rotan, salah satu kuliner tradisional.
Artikel Baru

MIGRASI

item-thumbnail



Melintasi rute sepi, melewati jalur hutan

yang dihuni begu dan jalan melingkar
dengan jurang menganga di mana kematian
bertahta. Dan segalanya tampak samar,
tapi kami akhirnya sampai di dangsina
Meninggalkan purba, tanah lama berawa-rawa
dengan gunung batu dan danau bermagma.
Danau yang menyimpan Naga Padoha
mimpi buruk kami yang dititipkan Mulajadi
sebagai ancaman. Roh yang jadi bayang-bayang
hukuman menyakitkan adalah misteri
hidup antara menjejak di tanah dan melayang
di udara. Dan kami menemukan ini negeri,
di lembah Sibualbuali, di mana sungai mengalir
datang dari hutan, angin adalah melankoli,
di dalam diri kejayaan berdesir mendesir.

Humbanghasundutan, x- 2023

Purba (bahasa Batak) artinya Utara dan Dangsina artinya “Selatan”. Ini mitologi migrasi orang Toba di Utara ke Selatan dan menemukan peraban manusia serta belajar dari masyarakat yang ditemuinya.

Artikel Baru

NAGA PADOHA

item-thumbnail


: thompson hs

Di Samosir, dari bangku sebuah bungalow, pikiranku
    menyelam ke kedalaman danau yang biru itu,
dan terpukau pada gadis yang menjelma seekor ikan
dalam dongengan. Entah, dia masih punya kejayaan,

setelah kutuk yang disambut gelegar petir di langit,
hujan yang tak henti-henti, dan lembah-lembah
    telah digenangi. Adakah dia telah kembali bangkit
    sebagai ikan atau menjelma Naga Padoha

dikirim Mulajadi Nabolon. Dan dengan ekornya,
dia guncang tanah jadi longsor, nafasnya merubuhkan
rumah-rumah sepanjang danau itu, dan puing-puingnya

menimbun orang-orang di banua toru. Di Samosir,
aku rafal mantra pemanggil Deak Parujar, tapi
yang datang padaku angin di bungalow itu berdesir.

Samosir, x – 2023

Naga Padoha: Masyarakat di Pulau Samosir menyakini ada mahluk mitologi bernama Naga Padoha yang bertugas menjaga Danau Toba. Mahluk mitologi ini sedang marah ketika sejumlah tempat di Danau Toba dilanda banjir bandang.


Artikel Baru

DI RANJANG RUMAH SAKIT

item-thumbnail



Di dalam sakit, aku berjalan

tapi tubuhku tak bergerak

di atas ranjang: 

antara sadar dan jaga

seperti lampu minyak

hendak padam.

 

Langkah kakiku menyusuri jalan

yang ujungnya begitu jauh. 

Langit muram jelang malam, 

tak ada suara-suara 

dari yang kucintai

sepanjang usiaku.

 

Aku harapkan

suara langkah anak-anak

berlari ke pagar rumah

dan menungguku pulang,

atau nyanyian istriku

saat meninakbobokkan

pada malam hari. 

 

Aku rasakan sepi

di dalam jantungku

menyebar

ke seluruh tubuhku

seperti darah

dipompakan.

 

Aku hanya mendengar satu suara:

bunyi mesin kardiografi: bip bip bip

dan itu suara jantungku

yang lemah,

sangat lemah.

 

Aku ingat  ucapan dokter

tentang hariku

segera selesai

dan mereka, keluargaku,

harus berdamai

tapi aku tak ketakutan

membayangkan pergi

ke suatu tempat

dan tidak seorang pun

yang aku kenali

di tempat itu.

 

Hanya Tuhan mahatahu

aku dekat dengannya

di dalam nafasku

ia adalah nafasku

dan ia menemaniku

di dalam sakit,

saat aku berjalan

dan aku tahu tubuhku

tidak bergerak

di ranjang. 

Artikel Baru
Older Posts
Home
BROWSE ALL Have no any related posts Search Archive Not found your key word, please try another one!