Ia telah menulis karya sastra (puisi dan cerpen) sejak masih SMP. Karya-karyanya sudah disiarkan di berbagai media di Medan dan Jakarta.
Selepas SMA, ia -- sebagaimana tradisi di kampungnya -- memutuskan merantau ke Jakarta. Berkuliah dan belajar ilmu jurnalistik kepada A.M. Hoeta Soehoet di Lenteng Agung, dan berkesenian dengan sejumlah komunitas penulis seperti Sanggar Diha Hadaning dan Forum Lingkar Pena.
Tahun 1992 menjadi jurnalis lepas di sejumlah surat kabar, majalah, dan tabloid yang terbit di Jakarta. Karya-karyanya bukan hanya karya satra, tapi juga karya jurnalistik dan opini. Secara rutin karya-karyanya muncul di Jayakarta, Suara Pembaruan, Tabloid Mutiara, Majalah Mahkota, Majalah Annida, Majalah Ummi, dan lain sebagainya.
Tahun 1995, ia pindah ke Medan dan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di UMSU sambil bekerja di Tabloid Bintang Sport Film. Tahun 1996, ia pindah ke Lampung dan menjadi jurnalis di surat kabar Lampung Post.
Selama tinggal di Lampung, 1996-2008, ia melakukan kerja jurnalistik, penelitian budaya, penerbitan buku, pelatihan menulis, trainer jurnalistik, dan konsultan bidang pencitraan publik. Lewat perusahaan yang didirikannya, CV Matakata Komunikasi, ia mengembangkan percetakan dan penerbitan buku. Menerbitkan buku-buku yang ditulis para akademisi, menulis dan menerbitkan buku biografi para elite.
Tahun 2009, ia pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai konsultan bidang pencitraan publik dan pengembang lembaga-lembaga milik negara maupun swasta yang terkait dengan pencitraan publik. Terlibat dalam pengembangan dan penguatan Sentral Pelayanan Propam Polri dan sejumlah unit sentral pelayanan di lingkungan Polda di seluruh Indonesia.
Sejak 2019, ia putuskan pulang dan tinggal di Padangsidimpuan sambil menulis, melakukan penelitian budaya, memberikan pelatihan penulisan, menjadi narasumber dalam seminar dan diskusi, dan menggelar event-event kebudayaan dan kesenian bersama Sanggar Seni SEP.

Terima kasih atas pesan Anda